Kabupaten Mangkawani terletak di bagian selatan bumi Celebes. Sebuah pondok pesantren yang cukup tua yang berdiri tahun 1980 diasuh seorang  ulama sepuh berkarisma Anre Gurutta Haji Mohammad Maksum. Anre Gurutta Haji sebuah gelar ulama di bumi Celebes yang selanjutnya disingkat AGH, sama dengan Kyai Haji disingkat KH kalau di tanah Jawa.

AGH Muhammad Maksum dalam keseharian memiliki panggilan nama Anre Gurutta Maksum. Dari cerita yang beredar di masyarakat beliau dahulu adalah menteri penerangan di masa pemberontakan DI TII pimpinan Kahar Muzakkar di Pulau Celebes. Setelah pemberontakan usai beliau terjun dunia pendidikan Islam memimpin pondok pesantren Mangkawani.

Sosok Anre Gurutta Maksum berperawakan kurus , tinggi sekitar 165 cm berambut putih dengan garis muka yang tegas. Orang yang sudah mengenal dekat menggambarkan Anre Gurutta orangnya ramah, dermawan tetapi teguh dalam memegang prinsip utamanya terkait aqidah. Kegiatan keseharian beliau fokus ke pengasuhan santri dan sesekali mengajar ustadz dan guru-guru muda di forum pengajian. Untuk menjalankan operasional dan pendidikan dibantu mudir yang bernama Ustadz Arskha Pallawarukka seorang alumni pondok Mangkawani yang kembali untuk membantu pengembangan di pesantren setelah lulus kuliah 5 tahun di Makassar.

Ustadz Arskha Pallawarukka dibantu Kepala Madrasah di pendidikan formal yang dibina pesantren, yaitu jenjang TK, MI, MTs, MA. Kepala Kepesantrenan membantu Mudir dalam pembinaan keagamaan sedangkan sarana prasarana, dapur dan keamanannya tugas Kepala Kekampusan.

Ustadz Arsakha Pallawarukka memiliki seorang istri bernama Cenning Marauleng dengan pembawaan ceria dan supel sehingga mendapat amanah mengelola warung yang menyediakan beragam makanan dan minuman diantaranya nasi kuning, goreng-gorengan, kue, aqua, teh dan kopi.

Warung yang menjadi tempat para guru yang tidak sempat sarapan dirumah terdengar lebih ramai dari biasanya. Suasananya menarik perhatian para santri di teras-teras kelas yang berdekatan warung. Ternyata tersiar berita bahwa ada salah seorang guru bujangan akan menikahi salah seorang santri kelas akhir Madrasah Aliyah. Santri perempuan yang akan dinikahi bernama Aisyah dan nama guru bujang laki-laki yang akan menikahi tidak ada yang tahu kecuali Anre Gurutta Maksum. Tidak seorangpun yang berani menanyakan hal tersebut kepada Anre Gurutta Maksum karena dianggap lancang

“Kenapa tidak memilih salah satu ustadzah yang ada di pondok?,” lontar Bu Cenning Marauleng diiyakan beberapa guru yang ada di warung.

“Ada Ustadzah Fauziah dan Ustadzah Nurhikmah yang dewasa sekaligus menyelamatkan mereka yang usianya 30 an tahun,” Pak Abdul ikut berpendapat.

“Bisa juga pilih yang lebih muda ada Ustadzah Aulia, Nurfaidah atau Ustadzah Nisa. Mereka juga cantik-cantik dan sholehah. Kenapa malah memilih santri yang masih sekolah,” tambah Ustadz Irfan. 

“Afwan, jodoh itu takdir!! Kalaupun nanti terjadi Aisyah kan sebulan lagi ujian akhir di Madrasah Aliyah. Apalah daya kita selaku manusia ini. Hei bagaimana?,” Ustadz Arsakha Pallawarukka sang Mudir meredam pembicaraan yang mulai menyalahkan. Dan lucunya sang calon pengantin pria dari guru bujang di pondok yang mau disalahkan belum tahu siapa dia.

Guru muda di pondok pesantren saat itu ada 5 orang. Ada Ustadz Syamsul perantauan dari Borneo umurnya 25 tahun menjadi musrif di asrama putra. Ustadz Maulana bujangan dari Gowa Celebes berumur 27 tahun, Ustadz Raihan dan Ustadz Arman keduanya adalah saudara sepupu dan umurnya sama-sama 26 tahun putra daerah Mangkawani dan kampungnya tidak jauh dari pondok. Kemudian Ustadz Ridha perantauan dari Jawa yang baru 6 bulan datang menjadi guru dan musrif di asrama sebagaimana para guru bujang yang lain berumur 24 tahun.

Ustadz-Ustadzah yang penasaran sebagian bertindak layaknya psikolog dengan membaca gerak-gerik para guru muda yang masih bujang. “ Perhatikan diantara mereka yang mati gaya atau salah tingkah berarti dialah calon pengantin prianya!,” argument Ustadz Mansyur meyakinkan.

Sebagian berlagak menjadi detektif yang memata-matai rumah Anre Gurutta. Siapa-siapa yang bertamu ke rumah Anre Gurutta sambal sesekali memasang telinga agar lebih peka kalau ada telpon masuk dan Anre Gurutta berbincang. Kalau ada nama disebut dari salah satu guru bujang maka kemungkinan dialah calon pengantin prianya.

“Awas kalau Raihan atau Arman yang jadi calon pengantinnya dan tidak memberitahu kalau mau menikah! Mereka berdua adalah kemenakanku,” ucap Ustadz Ambo. Dipanggillah Ustadz Raihan dan Ustadz Arman oleh Ustadz Ambo di ruang guru. Disaksikan guru yang lain Ustadz Ambo mencecar pertanyaan yang menonjok. Mereka berdua menggelengkan kepala sebagai isyarat membantah sebagai calon pengantin prianya. Tidak juga berbicara karena takut dengan pamannya yang terkenal galak.

“ Durhaka kamu sama saya kalau benar itu kamu. Tidak tahu diri siapa yang membawa kamu berdua menjadi guru disini!,” ucap Ustadz Ambo. 

Perbicangan seorang guru yang akan menikahi santri putri masih diselimuti rahasia. Misteri pengantin pria semakin membuat suasana di pondok pesantren Mangkawani guncang. Tuduh-menuduh di antara para Ustadz-Ustadzah terhadap lima guru bujang semakin tidak terkendali. Kalau dilihat dari umur kemungkinan Ustadz Raihan dan Arman karena sudah sama-sama 26 tahun. Sempat ditanya Ustadz Syamsul perantauan dari Borneo tetapi lenyap prasangka ke Ustadz Syamsul karena beralasan fokus mengabdi 2 tahun dan akan kembali ke pondok pesantren milik Abahnya. Sedangkan Ustadz Maulana terbebas dari prasangka karena para guru sudah mengetahui memiliki calon di Gowa yang menunggu.

Sebagian besar guru juga yakin bukan Ustadz Ridha yang pendiam dan baru 6 bulan tinggal di pondok pesantren. Dilihat dari gerak-geriknya Ustadz Ridha sama seperti sebelum-sebelumnya yang senyum dan menyapa saat bertemu. ,” Masa saya calon pengantinnya? Saya kan baru datang dan belum kenal banyak orang apalagi  santri akhwat yang tidak saya ajar.

Senin, 09 Mei 2002 bertempat di ruang utama Masjid Pesantren Mangkawani dilangsungkan akad nikah antara Ustadz Ridha dengan Aisyah. Semua warga pondok bersukacita karena berhenti berguncang arsy pondok setelah terbuka rahasia. Datang juga orang tua Ustadz Ridha dari Jawa memberi restu dan do’a.

Acara resepsipun digelar di aula pondok pesantren yang ruangannya dihijab tengah menjadi dua. Warga pondok, para guru dan tamu terpisah antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga saling bersalaman atau bersentuhan yang bukan muhrim antara laki-laki dan perempuan.

Anre Gurutta Maksum terlihat ceria wajahnya dengan senyum yang menebar tidak seperti sebelum-sebelumnya selama mengenal beliau. Beliau kelihatan puas dan penuh syukur dapat menyelesaikan urusan walimah dan mengadakan acara sebagaimana yang dikehendaki. Rupanya keinginan menikah Ustadz Ridha menguat karena di kampung asalnya di Jawa orangtuanya akan menjodohkan dengan seorang gadis yang tidak sesuai keinginannya sehingga memilih seorang santri untuk dinikahi dan menyampaikannya ke pengasuh pondok Anre Gurutta Haji Muhammad Maksum

Cerita Fiksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *