Hiru pikuk pagi dihalaman depan lobi menghangatkan suasana pagi yang dingin. Sebagian besar para santri menunggu mobil yang menjemput untuk kembali pulang ke rumah berlibur setelah menerima rapor akhir semester. Namun serombongan kecil memiliki rencana yang berbeda. Sepuluh guru pembina yang berdedikasi dan dua puluh murid yang penuh antusiasme, akan memulai petualangan ilmu. Satu minibus dan dua MPV telah menanti, siap mengantarkan mereka menuju gerbang pengetahuan di BRIN Parepare. Hari itu, ketika riuh rendah kepulangan liburan mewarnai sekolah, perjalanan mereka justru baru dimulai, menembus cakrawala menuju barat daya.

Dari Enrekang, kendaraan melaju perlahan, membelah jalanan yang masih sunyi menuju Parepare via Pinrang. Namun, semesta seolah ikut larut dalam perjalanan ini. Tak lama setelah meninggalkan hiruk pikuk kota, langit mulai menumpahkan butiran-butiran air, yang semula gerimis manja, kini berubah menjadi hujan lebat yang setia mengiringi. Rintik hujan berkejaran di kaca jendela, menciptakan simfoni alam yang menenangkan sekaligus mendebarkan. Pengemudi dengan sigap dan hati-hati mengendalikan laju kendaraan, memastikan setiap inci perjalanan tetap aman. Pepohonan di sepanjang jalan tampak basah kuyup, memancarkan aroma tanah yang khas dan menyejukkan. Kabut tipis sesekali menyelimuti pandangan, menambah kesan misterius pada perjalanan yang mengikis waktu.

Di dalam kendaraan, obrolan ringan dan canda tawa sesekali terdengar, memecah kesunyian yang tercipta oleh deru hujan. Para murid dengan mata berbinar-binar memandangi panorama yang disajikan alam, sementara para guru memastikan kenyamanan dan semangat para peserta. Waktu seolah berputar lebih cepat, tak terasa jarum jam menunjuk angka sepuluh. Tepat pukul 10.00 WITA, rombongan tiba di gerbang BRIN Parepare, disambut hangat oleh atmosfer ilmiah yang telah menanti.

Sambutan dari pihak BRIN terasa begitu terbuka dan hangat, seolah mereka adalah tamu kehormatan yang dinanti. Aura keramahan langsung menyelimuti begitu rombongan memasuki aula utama. Di sana, sebuah pemaparan yang memukau disajikan, menguak lembaran sejarah BRIN yang panjang dan inspiratif. Para peserta dibawa menyelami waktu, menelusuri jejak langkah LAPAN sejak kelahirannya pada tahun 1993, hingga transformasinya menjadi BRIN seperti saat ini. Kisah evolusi ini bukan sekadar deretan fakta, melainkan narasi tentang ketekunan, visi, dan kontribusi nyata dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia.


Sejarah BRIN Pare-Pare tidak dapat dipisahkan dari sejarah lembaga riset sebelumnya yang berada di Pare-Pare, khususnya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). BRIN sendiri adalah entitas baru yang merupakan hasil integrasi berbagai lembaga riset pemerintah di Indonesia.

Berikut adalah garis besar sejarahnya:

  • 1993: Pendirian Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh (SBSPJ) LAPAN Parepare.
    • Pada tanggal 29 September 1993, SBSPJ LAPAN Parepare diresmikan oleh Presiden Soeharto. Tujuannya adalah untuk menerima data satelit penginderaan jauh dari wilayah Indonesia bagian tengah. Lokasinya berada di tepi kota Parepare, sekitar 155 km utara Makassar.
    • Pada tahun 1995, sistem penerimaan dan perekaman data untuk satelit JERS-1 juga dibangun di sana.
  • 2001: Perubahan Nama menjadi Instalasi Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam (IISDA) LAPAN Parepare.
    • Berdasarkan Surat Keputusan Kepala LAPAN Nomor Kep/010/II/2001, SBSPJ berubah nama menjadi IISDA LAPAN Parepare. Lembaga ini memiliki fokus pada pelayanan teknis pemanfaatan data satelit Inderaja untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah.
  • 2011: Perubahan Nama menjadi UPT Balai Penginderaan Jauh Parepare.
    • Pada tanggal 20 Juni 2011, IISDA LAPAN Parepare kembali berubah nama menjadi UPT Balai Penginderaan Jauh Parepare. Pada masa ini, data satelit yang direkam meliputi data SPOT4 dan Modis (Aqua dan Terra).
  • 2015: Reorganisasi LAPAN dan Perubahan Nama menjadi Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare (SBPJ Parepare).
    • LAPAN secara menyeluruh melakukan reorganisasi. Balai Penginderaan Jauh Parepare berubah menjadi SBPJ Parepare. Fase ini dapat dianggap sebagai masa transisi sebelum bergabung ke BRIN.
  • 2019-2021: Pembentukan dan Integrasi ke BRIN.
    • 2019: Presiden Joko Widodo membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2019, awalnya melekat pada Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).
    • 2021: Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021, BRIN menjadi lembaga yang berdiri sendiri. Ini adalah momen penting di mana BRIN mengintegrasikan berbagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan badan penelitian dari berbagai kementerian/lembaga, termasuk LAPAN, BATAN, BPPT, dan LIPI.
    • Sejak saat itu, Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare (SBPJ Parepare) yang dulunya berada di bawah LAPAN, kini berada di bawah payung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan dikenal sebagai Kawasan BRIN Parepare.

Puncak kunjungan di BRIN adalah saat rombongan diajak menyelami jantung Laboratorium Penginderaan Jauh melalui Satelit. Di sanalah, teknologi canggih bertemu dengan kecerdasan manusia. Seorang pemandu dengan gamblang dan penuh semangat menjelaskan teknis penangkapan citra dari angkasa raya, bagaimana data-data mentah itu diolah, hingga akhirnya menjelma menjadi produk digital yang memiliki nilai guna luar biasa. Mata para murid terpukau saat melihat contoh-contoh citra satelit yang memukau. Penjelasan terperinci tentang bagaimana citra-citra ini dimanfaatkan dalam berbagai sektor, seperti pertanian-perkebunan untuk memantau kesehatan tanaman, energi pertambangan untuk eksplorasi sumber daya alam, hingga perencanaan wilayah dan tata kota untuk pengembangan infrastruktur, membuka wawasan mereka tentang aplikasi praktis dari teknologi yang selama ini mungkin hanya mereka dengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *