Akhir Juni, di bawah langit Sukabumi yang mendung, Faiz resmi menuntaskan babak sarjananya di Institut Muslim Cendekia Sukabumi, atau yang dulu bernama STIBA Arraayah. Rasa lega beradu dengan tegang—masa depan telah memanggil. Tak ada jeda, awal Juli ia sudah berjibaku dengan berkas pendaftaran pascasarjana. Target utamanya: Program Pendidikan Bahasa Arab di Malang. Namun, Faiz tahu satu hal yang harus dikejar segera TOEFL.

Bersama tiga sahabat, sesama alumni, mereka merangkai rencana perpisahan. Destinasi impian: keelokan Gunung Bromo. Pagi yang dingin, Stasiun Pasar Senen menjadi saksi janji persahabatan saat mereka naik ke atas gerbong Kereta Api Majapahit 246 yang panjang, membentang rute dari Jakarta menuju Malang.

Tawa dan cerita mengalir seiring deru roda kereta membelah Jawa. Mereka bicara tentang kenangan, tentang mimpi-mimpi di depan. Malang dan Bromo terasa begitu dekat, puncak petualangan sudah di depan mata. Namun, takdir punya kejutan di Kediri.

“Aku turun di sini, teman-teman,” ujar Faiz, suaranya mengandung sedikit rasa berat sambil mengingat pesan Bapaknya untuk membuat skala prioritas manakala padat rencana dan kegiatan.

Ketiga temannya menoleh”Lho, tidak rekreasi dulu ke Malang dulu, Fa? Bromo?”

Faiz tersenyum, menyandarkan ransel besarnya. “Iya, Ma’af, mepet waktu dan rencana berubah. Aku harus segera ke Kampung Inggris Pare. Semangatku sedang tinggi-tingginya untuk kursus TOEFL sebulan ini. Mohon doanya.”

Perpisahan terjadi di Stasiun Kediri sekitar jam 04.20 subuh. Faiz melangkah turun, melihat lambaian tangan teman-temannya dari jendela kereta yang perlahan bergerak menjauh, membawa mereka menuju Malang dan Bromo. Ia berbalik, menghirup udara pagi Kediri. Perjalanan aslinya baru saja dimulai. Ia harus menaiki anak tangga untuk mengejar penguasaan bahasa Inggris selain bahasa Arab yang selama ini dipelajari di perkuliahan

Satu bulan di Kampung Inggris Pare terasa seperti setahun. Rutinitas intensif, dikelilingi ribuan penuntut ilmu lain, dan kewajiban berbahasa Inggris sepanjang hari, menciptakan atmosfer yang mendidih. Faiz, yang memang sudah memiliki modal kuat dari kualifikasi Bahasa Arab selama kuliah di IMC, Alhamdulillah mengalami kemajuan pesat. Materi TOEFL yang semula terasa rumit, kini mulai terurai. Ia merasa siap. Bahkan disela kursus, menyempatkan mengambil tes TOAFL (Arab) dengan hasil memuaskan.

Ia tahu, penguasaan Bahasa Inggris, disandingkan dengan kualifikasi Pendidikan Bahasa Arab, akan menjadi bekal yang lengkap dalam menempuh pascasarjana nantinya apalagi kalau terjun ke dunia kerja. Opsi Surakarta memang ada, namun harapan Faiz sudah tertambat pada Malang.

Namun, di penghujung bulan kursusnya yang penuh perjuangan, takdir kembali berbisik. Pengumuman kelulusan Pascasarjana Malang keluar. Nama Faiz tercatat diantara 20an peserta yang harus melengkapi kekurangan berkas yang belum ada..

Jantungnya seakan berhenti berdetak. Setelah semua persiapan ini? Ia segera mencari tahu. Ternyata, kendalanya adalah administrasi. Ia belum bisa menunjukkan Ijazah Asli karena mulai tahun ini seleksi diperketat sehingga Surat Keterangan Lulus tidak cukup. Sementara wisuda baru akan dilaksanakan November 2025, jauh setelah batas waktu pendaftaran. Pintu Malang tertutup, bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena waktu yang tak berpihak.

Kekecewaan itu berat, tetapi tak sempat berlama-lama merajam. Tiga hari sebelum pengumuman pahit dari Malang, sudah ada kabar baik dari opsi kedua pascasarjana di Surakarta. Ia dinyatakan lulus, dan ada hal yang berbeda, perkuliahan dapat diambil secara online.

Seketika, jalan baru terbentang. Malang yang terhalang, kini digantikan Surakarta dengan fleksibilitas yang luar biasa. Qadarullah, ini adalah rencana-Nya karena bersamaan dengan kabar kelulusan Surakarta, telepon Faiz berdering. Peneleponnya adalah seorang senior jauh di IMC, seorang mudir mahad tahfidz di Maros, Sulawesi Selatan.

“Faiz, kami butuh kamu di sini. Bantu membina dan mengajar Bahasa Arab,” ajak sang Mudir.

Sebuah amanah yang tak terduga, yang sepenuhnya sejalan dengan ilmu yang ia miliki. Ia baru saja merencanakan fokus studi, kini ia ditawarkan peran profesional yang nyata.

Awal agustus, Faiz memutuskan. Ia tidak akan memilih salah satu. Ia akan menapak jejak takdir yang disiapkan Allah, dengan merangkul kedua kesempatan itu. Ia menerima amanah sebagai pengajar di Mahad Tahfidz Maros sembari menjalani kuliah pascasarjana via online di Surakarta. Dua peran, dua tanggung jawab besar, yang akan ia jalankan dengan penuh kesyukuran. Manusia merencanakan, tetapi pada akhirnya, kehendak Allah-lah yang berlaku, memberikan kesempatan dan tanggung jawab terbaik.

Sementara itu, adik perempuannya, Nayla, juga telah menyelesaikan wisuda. Setelah berlibur singkat di rumah nenek di Nganjuk, Nayla pun mendapat panggilan. Ia kembali mendapat tugas mengajar di Mahabbah Wadi Mubarak, Bogor untuk mengabdi setelah lulus.

Sudah sepekan lewat. Faiz di Maros, mengajar dan belajar secara daring. Nayla di Bogor, mengemban tugas mendidik. Keduanya, kakak-beradik kini mulai menapak jejak mereka di panggung kehidupan yang lebih luas. Mereka bukan lagi mahasiswa, melainkan pendidik dan penuntut ilmu yang memikul peran dan tanggung jawab besar.

Alhamdulillah bini’matihi tatimmus sholihat” Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya sempurnalah kebaikan-kebaikan. Mereka berjalan, berbekal ilmu dan doa, berharap terus diberi bimbingan dan petunjuk-Nya dalam setiap langkah yang mereka tapaki, sekarang dan di masa depan. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *