Mentari Yogyakarta belum sepenuhnya meninggi saat jemariku merengkuh kotak-kotak Bakpia Pathok 25, oleh-oleh khas yang harumnya seolah mengabadikan jejak kenangan. Dari jantung toko di Jalan Karel Sasuit Tubun, setiap kotak kardus tebal, dirancang apik dengan pegangan kokoh, adalah janji manis akan cita rasa Yogya yang akan kubawa serta. Pukul dua belas siang, kami tiba kembali di penginapan, seolah waktu berputar dalam pusaran kebahagiaan. Setelah menunaikan salat dan mengemas segala bawaan, niat hati melabuhkan diri pada jasa Grab, menuju Pool atau Agen Bus Sinar Jaya di Terminal Jombor Blok Utara, enam kilometer dari peraduan sementara kami.

Pamit kami ucapkan pada penjaga homestay yang ramah, senyumnya sehangat mentari pagi. Kuhela koper, menelusuri gang sempit berliku yang membelah jantung kota, menuju seberang Stasiun Tugu Yogya. Di kanan kiri, rumah-rumah warga berbalut penyamaran penginapan khas Yogya, seolah menyiratkan kisah adaptasi demi menjemput rezeki di dekat Malioboro yang tak pernah sepi. Tak lama berselang, deru mesin Grab memecah keheningan, menjemput kami dalam pelukan takdir perjalanan. Dua puluh menit kemudian, Terminal Jombor menyambut, tepat di utara ringroad utara Yogya— sebuah simpul vital yang menghubungkan kota dengan Jalan Siliwangi di utara dan barat, Jalan Brawijaya dan Jalan Nasional di selatan, serta Jalan Majapahit di timur. Grab berhenti di hadapan Pool Bus Sinar Jaya, gerbang awal menuju Baranangsiang di Kota Bogor.

Malam akan membentang panjang, menelan waktu. Etiket bus mengisyaratkan keberangkatan pukul 15.05 WIB dari Jombor, dan tiba pukul 02.30 WIB di tujuan. Dua belas jam, mungkin lebih, akan kami lewati, menembus rute yang sebagian perjalanan malalui punggung-punggung pegunungan, di mana udara dingin menusuk hingga ke tulang. Setelah merampungkan registrasi di agen, langkahku menyusuri sisi timur terminal, mata mencari-cari warung nasi. Sebagian besar adalah kios angkringan, nasi tersembunyi dalam bungkusan-bungkusan misterius. Hingga di dekat pintu masuk terminal Jombor, di sisi Jalan Magelang-Yogyakarta, seolah ditakdirkan, pandanganku terpaku pada Warung Ayam Kampung Goreng Mbok Sabar. Dua kotak nasi kubeli, tergesa kembali ke agen Sinar Jaya. Alhamdulillah, perut terisi, bekal menghadapi dinginnya perjalanan malam yang akan melintasi pegunungan.

Tepat pukul 15.05, Bus Sinar Jaya mulai bergerak, merangkak meninggalkan Jombor. Melewati Sleman, Muntilan, dan Magelang, langit masih memerah, berjanji akan senja. Namun, temaram mulai memeluk saat kami melintasi Muntilan, Parakan, dan Sukorejo menuju Kendal. Telinga mulai tersumbat, seolah menolak perbedaan tekanan udara di dalam bus yang ber-AC dan ketinggian yang terus menanjak. Menelan ludah atau menyesap minum adalah ritual kecil agar gendang telinga kembali plong, sensasi yang tak asing bagi mereka yang pernah merasakan lepas landas dan mendaratnya pesawat. Dingin merayap, menusuk, meskipun lubang AC di atas kepala telah kututup rapat dan selimut yang tak seberapa besar terus kubetulkan posisinya agar menutupi seluruh tubuh. Fasilitas bus eksekutif restleg Sinar Jaya memang patut diacungi jempol: selimut, bantal, AC, dan bahkan toilet—meskipun saat menggunakannya, kehati-hatian ekstra mutlak diperlukan, berpegangan erat kala jalanan menanjak, menurun, dan berliku.

Setelah Isya, bus kami merapat di Rumah Makan Sari Rasa, di Jalan Raya Weleri-Kendal. Tempat ini menjadi oase bagi para penumpang Sinar Jaya untuk beristirahat, mengisi perut, dan menunaikan salat. Toilet dan musala tersedia lengkap. Dengan menunjukkan tiket bus, menu sederhana namun gratis siap disantap. Pukul 09.10, kami dipersilakan bersiap, melanjutkan perjalanan malam menuju Batang, Tegal, Brebes, dan Cirebon. Melintasi jalan tol, kantuk memaksa kami terlelap, walau tak pulas. Lewat tengah malam, kami melintasi Cikampek, Cikarang, Bekasi, dan TMII. Beberapa penumpang mulai turun satu per satu, memperlambat laju bus, membuat kami tiba di Terminal Baranangsiang Bogor sedikit terlambat dari jadwal. Pukul 03.30 WIB, bus berbelok masuk terminal. Keterlambatan ini justru kami syukuri, karena jeda menuju waktu subuh sudah dekat. Dengan berjalan kaki sambil menyeret koper, kami menuju Masjid Alumni IPB, di seberang jalan, dekat Botani Square.

Masjid Alumni IPB, yang megah berdiri di Kota Bogor, adalah mercusuar keagungan yang diresmikan pada tahun 2017. Berfungsi sebagai pusat ibadah dan dakwah, masjid ini adalah buah karya Himpunan Alumni IPB yang dimulai sejak 2009. Posisinya yang strategis di tengah kota, di antara hotel, kampus, terminal, dan pusat perbelanjaan, menjadikannya saksi bisu dinamika kehidupan. Terminal bus antarkota dan provinsi, serta terminal angkutan kota dan Damri menuju Bandara Internasional Cengkareng, semuanya berdekatan.

Bergantian kami menjaga koper di sudut halaman masjid, sementara salah satu bergegas menuju toilet atau melaksanakan salat Subuh. Layanan yang ditawarkan sungguh optimal bagi jemaah: loker dan laci tersedia di sekitar area penjaga, seperti ruang layanan pelanggan. Toilet pun berlimpah, bahkan ada kamar khusus untuk mandi, seolah memfasilitasi para pekerja atau musafir yang ingin menyegarkan diri di masjid ini.

Alhamdulillah, kami telah tiba di Kota Bogor, menyelesaikan segala urusan dan kewajiban di Masjid Alumni IPB. Pamit kami ucapkan pada penjaga, setelah sempat mengisi daya ponsel yang mulai sekarat. Dengan Grab, kami meluncur menuju Cisarua, tepatnya Grand Hotel Assu yang telah kami pesan jauh hari, demi menghadiri wisuda sarjana—sebuah puncak dari perjalanan panjang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *