Desiran angin pagi masih menyisakan dingin yang menusuk, namun hati kami telah hangat oleh janji sebuah perjalanan. Rencana awal kami naik kereta dari Nganjuk ke Pasar Senen dan sambung naik bus ke Bogor, ternyata tiket sudah habis terjual saat di cek di traveloka dan secepatnya kami merubahnya mencari tiket Nganjuk – Yogya kemudian dari Yogya ke Bogor dengan transportasi darat bus.
Petugas Customer Service Stasiun KAI Nganjuk DAOP 7 Madiun, mengabarkan rilisnya gerbong baru Gaya Baru Malam Selatan dan bagus untuk dicoba. Kata-kata itu melambungkan angan, membawa kembali memori masa muda saat masih kuliah menemani Mak dan Bude ke Jakarta sekitar 30 tahun yang lalu. Kini, di sampingku, istriku yang berdarah Sulawesi, menatap dengan binar penasaran—sebuah pengalaman pertama yang akan terukir.

Kamipun membeli tiket kelas ekskutif melalui aplikasi Traveloka, bisa juga KAI Access. Sebuah kemajuan yang tak terbayangkan dulu, saat antrean panjang di loket adalah pemandangan lazim. Tiket eksekutif tak lagi dilayani di stasiun, melainkan di genggaman tangan, dalam sentuhan jari-jari. Setelah e-tiket terbit, aku kembali menghadap petugas yang sama, dan dengan sigap ia memfasilitasi printout. Senyum merekah di bibirku; esok lusa, tak perlu lagi repot boarding, cukup melenggang, langsung naik kereta. Betapa mudahnya kini.
Pagi Ahad, 23 Juni 2025, kami telah siap sedia usai Subuh. Koper-koper berisi harapan dan bekal terkemas rapi. Pukul 06.30, Mak telah menyiapkan nasi pecel untuk sarapanku. Mak tahu aku jarang makan nasi pecel dengan citarasa khas jawa timur karena aku tinggal di Sulawesi. Nasi Pecel, sarapan sederhana yang hangat di perut. Sementara Pak, telah lebih dulu menyeruput kopi racikan Mak, pahitnya menghanyutkan namun manis oleh sentuhan kasih sayang. Tak lama kemudian, Kakak tertua datang, siap mengantar kami. Jadwal keberangkatan pukul 08.04 WIB, dengan janji tiba di Lempuyangan Yogyakarta pukul 11.05 WIB. Sebuah ketepatan waktu yang kini menjadi ciri khas KAI.
Pamitan penuh haru dengan sanak saudara, peluk cium dengan Bapak, dan rombongan kecil kami, ditemani Mak serta istri Kakak tertua, meluncur membelah kabut tipis yang masih setia memeluk tanaman petani, pepohonan, dan atap rumah. Dingin pagi mencekat, namun kehangatan keluarga mengalahkan segalanya. Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di Stasiun Kereta Api Nganjuk. Stasiun yang telah banyak berubah, namun tetap menyimpan kenangan lama.
Di ambang pintu peron, kami berpamitan kembali. Salim, peluk, dan cium pipi dengan Kakak, istrinya, dan Mak. Lalu, dengan langkah mantap, kami menarik koper memasuki ruang tunggu yang bersih dan teratur. Udara di dalam stasiun terasa berbeda, ada semacam aura optimisme dan efisiensi yang meresap. Tak lama berselang, sirine panjang memecah keheningan, dan sesosok baja melaju pelan, megah, dan anggun memasuki peron—Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan. Jantungku berdesir, sebuah kebanggaan membuncah. Inilah Indonesia, inilah KAI kita.

Kami berjalan menuju peron, mencari gerbong Eksekutif 4. Begitu masuk, sebuah senyuman tak bisa kutahan. Inilah gerbong baru itu! Detail tempat duduknya sungguh memanjakan. Kursi-kursi berlapis beludru gelap, lebar dan empuk, dilengkapi sandaran kepala yang bisa diatur, ruang kaki yang lega, bahkan ada meja lipat kecil yang kokoh. Jendela besar memungkinkan pandangan lepas ke hamparan sawah dan perbukitan yang perlahan berganti pemandangan. Ada soket listrik di setiap kursi, sebuah kemewahan yang tak ada di masa lalu. Aku bisa melihat istriku tersenyum lebar, matanya berbinar takjub.
Perjalanan pun dimulai. Yang paling mengejutkan adalah sunyi yang merayap di dalam gerbong. Tak ada lagi deru bising roda besi yang mengikis telinga, tak ada getaran berlebihan yang membuat isi perut bergejolak. Hanya alunan lembut desiran rel yang sesekali terdengar, seperti melodi pengantar tidur. Kualitas insulasi suara yang luar biasa membuat kami bisa berbincang santai, bahkan berbisik tanpa perlu khawatir mengganggu penumpang lain.
Ketika hasrat alam memanggil, aku memberanikan diri menuju toilet. Dan lagi-lagi, KAI berhasil membuatku terpukau. Ruangan yang bersih, kering, dengan kloset duduk modern dan wastafel yang berfungsi sempurna. Aroma citrus yang samar-samar tercium, bukan bau tak sedap yang sering dikaitkan dengan toilet umum. Sebuah standar kebersihan dan kenyamanan yang setara dengan fasilitas bintang lima.

Sepanjang perjalanan, pelayanan kru kereta api sungguh patut diacungi jempol. Pramugari dan pramugara yang ramah dan sigap, sesekali berkeliling menawarkan makanan dan minuman dengan senyum tulus. Mereka menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan membantu penumpang yang membutuhkan. Mereka bukan sekadar petugas, melainkan duta keramahtamahan Indonesia.
Dan yang terpenting dari semua itu, adalah ketepatan waktu. Jarum jam terus berputar, dan kereta ini melaju dengan presisi yang menakjubkan. Tidak ada keterlambatan yang berarti, tidak ada keraguan. Pukul 11.05 WIB, tepat seperti yang tertera di tiket, kereta melambat dan akhirnya berhenti sempurna di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

Kami turun dari gerbong, membawa serta koper dan segudang cerita baru. Kebanggaan membuncah di dada. Inilah KAI kita, sebuah ikon kemajuan transportasi Indonesia. Dari gerbong baru yang nyaman, toilet yang higienis, suasana yang tak bising, pelayanan prima, hingga ketepatan waktu yang presisi—semuanya adalah bukti nyata dedikasi dan komitmen untuk melayani rakyat. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah pengalaman yang membangkitkan kembali rasa cinta akan negeri ini, dan tentu saja, kecintaan baru bagi istriku yang baru pertama kali merasakan keajaiban kereta api Indonesia.
