Selasa, 11 November 2025

Udara Enrekang siang itu terasa begitu berat, memikul kabut yang baru saja menyelimuti. Kenyataan yang tidak terduga, namun sebuah fakta atas kepergian rekan seperjuangan di sekolah, Ibu Ramayana yang kembali kepada NYA. Ba’da Ashar, suara azan mengalun pilu dari Masjid Ta’mirru Darul Falah, seolah mengiringi jenazah almarhumah. Sempat larut dalam doa, namun takdir perjalanan menuntutku untuk memahami arti batasan waktu dengan melepas kepergian beliau hanya sampai di ambang pintu gerbang, tanpa sempat mengantar ke peristirahatan terakhir. Pukul 15.32 WITA, dengan langkah pelan dan hati yang masih berkabung, aku kembali ke rumah, mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang yang membentang di hadapan.

Tak lama berselang, pukul 16.40 WITA, sebuah Toyota Innova krem yang bertenaga namun berbisik lembut, sudah menunggu di depan rumah. Aroma perjalanan segera menguar, mengusir sedikit kepedihan. Kami bergerak, meninggalkan Enrekang yang bergunung-gunung, di mana jalanan berkelok-kelok bak ular naga yang membentang di punggung bukit. Sesekali mata memandang ke luar, ke arah jurang yang dalam, atau ke punggung-punggung gunung yang gagah berdiri, diselimuti hijaunya pepohonan yang memeluk erat. Ini adalah Enrekang, negeri para “Massenrempulu” yang tanahnya meliuk-liuk, menyimpan keindahan alam yang menakjubkan.

Perlahan, kelokan Enrekang mulai mereda, berganti dengan bentangan dataran yang lebih landai saat kami memasuki Rappang, kemudian Sidrap. Hamparan sawah padi yang luas membentang di kiri-kanan jalan, bagaikan permadani hijau zamrud yang disulam dengan benang-benang emas di bawah bias cahaya senja. Inilah lumbung beras nasional, jantung kehidupan petani yang tak pernah lelah merawat bumi. Pemandangan ini sejenak melenakan, membawa pikiran melayang pada kesederhanaan hidup yang tak terhingga nilainya.

Tepat pukul 18.05, setelah menempuh sekitar 48 kilometer, Innova kami singgah di sebuah masjid di Carawali Watangpulu Sidrap. Sebuah jeda untuk shalat, menenangkan jiwa yang letih, sebelum melanjutkan perjalanan menjemput Nabila di Pondok Pesantren Tahfidz Putri MHK yang hanya berjarak seratus meter. Setelah Nabila bergabung, perjalanan berlanjut, membawa kami melewati Parepare, kota pelabuhan yang sibuk, di mana aroma laut mulai tercium samar di udara.

Kemudian, kami menyusuri jalanan Kabupaten Barru yang terasa begitu panjang, membentang di tepi laut. Deburan ombak yang tak terlihat, namun terasa kehadirannya, menemani perjalanan di sisi kanan. Langit mulai gelap, dan bintang-bintang perlahan bermunculan, menemani laju kendaraan. Di tengah perjalanan, kami singgah di daerah Kuppa untuk makan malam, mengisi kembali energi yang terkuras. Hidangan sederhana terasa nikmat, mengembalikan kehangatan yang sempat hilang.

Setelah menempuh 112 kilometer lagi selama 3 jam 29 menit yang terasa panjang, akhirnya pada pukul 21.54 WITA, kami tiba di destinasi pertama: Bandara Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros. Maros, kota penyangga Makassar, yang kini menjadi gerbang udara bagi sebagian besar wilayah timur Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk bandara yang tak pernah tidur, kami bertiga mencari bangku kosong. Sebuah anugerah kecil di antara keramaian, bisa sejenak merebahkan punggung dan meluruskan kaki yang pegal. Secangkir kopi cappucino dari stand Roti ‘O yang hangat menemani penantian, menghangatkan tubuh di tengah hawa bandara yang sejuk.

Rabu, 12 November 2025

Rencana awal untuk menjemput Faiz di Macoppa batal, sebuah pesan singkat di WhatsApp mengabarkan bahwa ia akan menyusul karena masih ada meeting rihlah di pondok. Kami bertiga melanjutkan penantian di bandara, larut dalam obrolan ringan dan sesekali terlelap di bangku. Sekitar pukul 01.15 WITA, sosok Faiz muncul, membawa serta energi muda yang menyegarkan suasana.

Meski sempat tertunda 30 menit, akhirnya pukul 03.16 WITA, pesawat NAM AIR mengukir jejak di langit malam. Lampu-lampu kota Maros dan Makassar perlahan mengecil di bawah sana, digantikan hamparan kegelapan yang diselingi titik-titik cahaya bintang. Perjalanan udara sejauh 1 jam 53 menit terasa singkat, terlelap dalam buaian mesin pesawat. Pendaratan mulus di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Indonesia, terasa seperti kembali ke realitas. Waktu menunjukkan pukul 05.08 WIB, satu jam lebih lambat dari WITA, seolah waktu pun ikut bergeser seiring perpindahan benua.

Di tengah kesibukan bandara yang mulai menggeliat, kami bergantian masuk toilet, menyegarkan diri setelah penerbangan panjang. Kemudian, di lantai dua, Masjid Bandara menjadi tujuan berikutnya. Aroma kopi dan roti di bandara tergantikan dengan harum nasi putih dan lauk ayam kampung goreng plus sambal terasi yang menghangatkan perut di pagi hari. Sebuah kenikmatan sederhana yang tak ternilai.

Kami beranjak ke pool DAMRI. Pukul 07.03 WIB, Bus DAMRI berwarna biru melaju di jalan tol, membelah pagi menuju Bogor. Perjalanan sejauh 77 kilometer ditempuh dalam 1 jam 38 menit, melewati pemandangan tol yang padat namun teratur.

Pukul 08.42, bus pun merapat di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor. Posisinya yang strategis, bersebelahan dengan Botani Square dan Masjid Alumni IPB, memudahkan kami. Kami menapaki sekitar sepuluh anak tangga, mencapai pelataran Masjid Alumni IPB. Kenangan setahun lalu terlintas, dua kali singgah di sini, saat Ramadhan dan saat wisuda Nayla di Wadi Mubarak. Di bangku yang sama, kami berempat mengistirahatkan diri.

Ini adalah tempat peristirahatan paling nyaman, di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia. Di satu sisi, terminal yang selalu ramai dengan penumpang datang dan pergi. Di sisi lain, jalanan kota yang memutari Tugu Kujang dan Kebun Raya Bogor yang rindang, dipenuhi lalu-lalang kendaraan yang tak henti. Kesibukan para pegawai dan staf, karyawan Botani Square, serta satpam di pagi hari, menciptakan simfoni kehidupan kota yang tak pernah tidur. Namun di sini, di pelataran masjid yang teduh, seolah ada sekat yang memisahkan kami dari keramaian itu. Udara Bogor yang dingin dan sejuk, dihiasi rimbunnya pepohonan, menawarkan ketenangan yang dicari.

Setelah menyelesaikan urusan di Kota Bogor, membeli beberapa keperluan perjalanan, dan merasa cukup beristirahat, kami memesan Grab menuju Sukabumi. Pukul 10.46, Grab mulai mengantar kami. Delapan menit kemudian, kami melintasi rest area KM 45A Tol Jagorawi di Ciawi, sebuah penanda bahwa Bogor mulai kami tinggalkan.

Perjalanan berlanjut, memasuki jalur Ciawi menuju Cibadak, sebuah ruas jalan yang terkenal dengan kemacetannya. Kendaraan merayap perlahan, menciptakan antrean panjang yang menguji kesabaran. Namun, pemandangan di sepanjang jalan yang masih didominasi hijau, dengan rumah-rumah penduduk dan toko-toko kecil yang berjejer, memberikan hiburan tersendiri. Semakin jauh, jalanan kembali menunjukkan karakteristik Sukabumi yang berbukit dan berliku, dengan rimbunnya pepohonan yang memeluk jalan, menciptakan kanopi alami. Udara terasa semakin sejuk, memberikan janji ketenangan.

Setelah menempuh perjalanan 1 jam 21 menit dengan jarak tempuh 50,2 kilometer, akhirnya kami tiba di Hotel DEMIX, tempat menginap kami di Sukabumi. Lingkungan hotel yang asri, dikelilingi hijaunya pepohonan, seolah menyambut kedatangan kami dengan pelukan hangat. Udara sejuk Sukabumi yang khas langsung terasa.

Agenda utama ke Sukabumi adalah menghadiri wisuda Faiz, yang telah menyelesaikan studi S-1 di Institut Muslim Cendekia atau Arraayah Sukabumi. Perjalanan panjang dari duka dengan berpulangnya teman menuju kasih sayang NYA di Enrekang, kemudian melintasi ribuan kilometer darat dan udara, Alhamdulillah berakhir di sebuah titik keharuan. Sebuah penutup yang manis, membingkai seluruh lelah dan kesedihan menjadi harapan dan kebanggaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *