Sejak sore kami berdua berkemas-kemas dengan pakaian yang akan dipakai selama 10 hari perjalanan. Dua tas besar, 1 koper hitam doff dan tas kain abu-abu telah rapi diatas ubin granite hitam di teras rumah. Cahaya lampu yang terang dari atas tak mampu sepenuhnya menepis kesyahduan malam yang mulai merayap. Tak lama kemudian sebuah mobil Innova diesel warna krem 2500 cc tiba. Kami berdua adalah penumpang pertama yang dijemput, kemudian mobil melanjutkan perjalanan untuk menjemput penumpang lain yang sudah memesan sehari sebelumnya.


Setelah seluruh penumpang dijemput, di depan RSU Enrekang mobil berhenti sejenak dan sopir yang akan membawa kami ke Makassar sudah siap diposisi. Sang sopir adalah seorang pemuda berperawakan kecil dan semula kami sedikit ragu apakah betul dia yang akan membawa kami berenam sebagai penumpang ke Makassar. Setelah mobil mulai berjalan, saya yakin akan kemampuan sopir mengendalikan mobilnya. Pandangannya lurus menatap kedepan dan tidak butuh waktu lama mengemudi mobil dengan kecepatan sekitar 100 km/jam. Berkali-kali ia menyalip kendaraan lain dengan cekatan, memainkan saklar lampu sebagai isyarat. diiringi alunan lagu “Mangu” yang dinyanyikan Ari Lesmana.

Sekitar pukul 12 malam, kami tiba di Terminal Kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang megah dan modern, meskipun sebagian pembangunannya masih berlangsung. Kami segera menarik koper masing-masing menuju ruang besar tempat penumpang melakukan check-in atau menitipkan bagasi. Sambil meluruskan persendian, kami mencari dua baris bangku kosong untuk beristirahat sejenak dan menikmati Roti O. Meskipun sempat tertidur dalam perjalanan dari Enrekang ke bandara, rasa lelah akibat aktivitas padat beberapa hari sebelumnya belum sepenuhnya sirna. Tak lupa, kami membeli bolu khas Makassar dengan berbagai topping sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Nganjuk.
Pukul 02.00 dini hari, kami memutuskan untuk check-in mandiri dan menuju ruang tunggu. Di Gate 6, kami kembali berbaring santai menunggu penerbangan pertama hari Jumat sekitar pukul 04.40 dengan Citilink menuju Bandara Juanda Surabaya. Tepat pukul 04.00, pengumuman panggilan untuk penumpang Citilink tujuan Surabaya mulai mengalun.

Pukul 04.40, pesawat pun lepas landas, menembus gelapnya dini hari. Kami berdua memutuskan untuk menunaikan salat Subuh di pesawat, sengaja bersuci sesaat sebelum masuk pesawat, dengan perkiraan pendaratan di Juanda Surabaya akan terjadi pada pukul 05.10.
Pesawat mendarat mulus di landasan yang basah oleh embun pagi. Toilet umum menjadi pencarian pertama untuk melepas hajat. Salut untuk para cleaning service yang selalu siaga dan penuh senyum menyambut, serta sigap membersihkan lantai toilet. Kami beristirahat sejenak di bangku dekat antrean pengambilan bagasi, meskipun kami tidak menitipkan bagasi. Bandara masih sepi. Dua bungkus Roti O tersisa menemani kami mengisi perut yang terasa kosong oleh dinginnya udara pagi, ditemani dua hingga tiga tegukan air mineral Lee.
Selanjutnya, taksi bandara mengantar kami menuju Terminal Bus Bungurasih. Taksi melaju lancar terkendali di jalanan Surabaya. Beruntung, jika setengah jam lagi, jalanan pasti sudah macet karena jam keberangkatan kerja yang padat.
Sesampainya di pintu pemberangkatan Terminal Bungurasih, kami singgah di sebuah warung makan sederhana di lorong menuju deretan Bus Patas. Kami mungkin pembeli pertama pagi itu, karena penjualnya baru saja menyiapkan beberapa menu makanan. Saya memesan nasi rawon, sementara istri memesan nasi lalapan dengan lauk ikan nila, ditemani teh hangat.
Badan terasa hangat setelah mengisi perut. Kami pun memasuki Bus Eka yang rencananya akan menurunkan kami di Terminal Nganjuk.

Pukul 07.15, bus mulai melaju meninggalkan terminal. Rupanya, sopir membawa kendaraannya mampir di bengkel bus untuk mengganti ban depan demi keselamatan bersama. Sepanjang perjalanan, shockbreaker bus berderit-derit, awalnya sedikit mengusik, tetapi lama-kelamaan kami bisa memaklumi dan berharap selamat sampai tujuan.
Sekitar dua jam perjalanan, kami turun di Stasiun Kereta Api Nganjuk, merubah rencana awal yang seharusnya turun di terminal bus Nganjuk. Pertimbangannya, sekalian membeli tiket kereta api untuk perjalanan ke Yogyakarta tanggal 22 Juni 2025. Menurut informasi dari customer service, Kereta Gaya Baru Malam Selatan adalah unit terbaru, jadi kami membelinya dengan harapan istri mendapatkan pengalaman berkesan karena ini adalah kali pertama baginya naik kereta. Tiket eksekutif harus dibeli menggunakan aplikasi. Dengan bantuan petugas CS Stasiun KAI Nganjuk, kami berhasil memesan dan mencetak tiket melalui Traveloka.
Selanjutnya, dengan Grab mobil, kami sempat beberapa kali menuju tujuan di Kota Nganjuk. Menjelang waktu salat Jumat, kami menuju Masjid Agung Nganjuk yang bersebelahan dengan alun-alun untuk menunaikan salat Jumat. Selesai salat, kami bergegas bergeser ke alun-alun sambil menunggu Kakak yang siap menjemput. Rupanya, ada acara akad nikah setelah salat Jumat, membuat suasana Masjid Agung ramai.
Mobil Kakak kedua menepi. Kami pun berpelukan hangat, kembali berjumpa setelah sekitar setahun tidak bertemu. Terakhir kali pulang ke Nganjuk adalah saat putra-putri kami yang libur kuliah menghabiskan waktu di rumah nenek di Nganjuk. Kakak sempat menghentikan mobil di tepi jalan poros Nganjuk-Kediri, mengajak kami singgah makan di Warung Sate Cak Udin di Joho Pace. Kami menempati meja di bawah pohon jambu yang rindang, ditambah lagi dengan lindungan paranet 85%, sehingga makanan aman dari daun atau ranting yang mungkin jatuh.
Selesai makan, perjalanan sudah dekat. Mobil perlahan memasuki pekarangan rumah saat kami tiba di rumah orang tua. Kami pun masuk rumah dan bergantian mencium tangan serta wajah Ibu dan Bapak, sambil memeluk pelan untuk melepas kerinduan. Alhamdulillah, keduanya sehat dan selalu menebar senyum kebahagiaan menyambut kami berdua.
