Pagi itu, mentari menyapa lembut dari ufuk timur, memecah embun yang masih bergelayut di dedaunan. Aroma tanah basah setelah gerimis semalam mengisi udara, menyatu dengan kesibukanku membersihkan bodi putih kendaraan yang sedikit belepotan lumpur—sisa petualangan kemarin. Aliran air dari selang membasuh pelan, diusap dengan kain mikrofiber tanpa sabun, cukup untuk mengembalikan kilau aslinya. Giliran kaca mobil kubersihkan dengan semprotan Kit Waterless Car Wash, dilap kain kering, dan dalam sekejap, pandangan kembali jernih. Metode praktis, kala waktu tak berpihak untuk mencuci mobil dengan seksama. Setelah mesin kuhangatkan sekitar lima menit, kumatikan dan kaospun basah menyerap peluh keringat. Akupun bergegas masuk rumah, menikmati semilir angin dari kipas Krisbow yang membawa kantuk kembali merasuk.

Istri dan si bungsu, Nabila, juga tampak hampir rampung dengan persiapannya. Tak lama kemudian, kami berkumpul di meja makan, menikmati sarapan sambil bertukar cerita ringan tentang rencana perjalanan hari itu. Ya, pukul sepuluh pagi WITA, Nabila akan kami antar ke Gowa memenuhi keinginan dan tekadnya menghatamkan hafalan Al-Qur’an di Karantina Tahfizh Nasional Darul Istiqamah di Gowa.

Pukul 10.15 WITA kami berangkat dan selama dua jam perjalanan melintasi Enrekang, Sidrap, dan Pare-Pare. Jalanan yang berliku di awal, perlahan berganti menjadi hamparan datar di Sidrap, menyajikan pemandangan sawah dan perkebunan yang hijau membentang. Tibalah kami di Rest Area Kupa, kabupaten Barru. Sebuah oase berjarak enam belas kilometer dari Masjid terapung BJ Habibie. Fasilitas tempat parkir yang luas, toilet bersih, mushala, dan deretan gazebo lesehan di bibir pantai. Pengunjung di sini umumnya adalah musafir, singgah untuk melepas lelah dan menikmati hidangan kuliner di tepi pantai. Waktu melenakan. sekitar satu jam kami menikmati ketenangan pantai, membiarkan deburan ombak membasuh penat. Selesai salat dan menyantap makan siang, tepat pukul 13.40 WITA, perjalanan berlanjut menuju Makassar.

Perjalanan melintasi kabupaten Barru, Pangkep, Maros, dan Makassar memiliki karakter yang berbeda dari rute Enrekang, Tana Toraja, ke Palopo, meskipun sama-sama berada di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Jika jalanan Enrekang ke Palopo cenderung sempit, berliku, menanjak, dan menurun melalui perbukitan dan pegunungan, maka rute Barru ke Makassar lebih lebar dan datar. Alhamdulillah, perjalanan siang itu lancar, meski godaan kantuk seringkali datang menyerang. Salah satu ‘obat’ ampuhku adalah potongan dadu buah semangka atau melon dingin yang selalu tersedia. Kunyahan buah itu seolah menjadi senam wajah, mengusir kantuk dan menyegarkan kembali.

Sesampainya di Bundaran Mandai, kami langsung mengambil jalan menuju Tol Insinyur Sutami. Di simpang Tol Tallo, kami mengambil arah menuju Tol AP Pettarani. Pukul 15.37 WITA, kendaraan kami menuruni jalanan AP Pettarani yang padat merayap, sebuah pemandangan biasa kota Makassar. Waktu sudah mendekati azan Magrib, namun perjalanan tetap berlanjut ke Jalan Boulevard dan di perempatan depan Hotel Denpasar, kami berbelok ke kanan, memasuki Jalan Bougenville, dan perlahan kendaraan kami memasuki area parkir Hotel Amaris Panakkukang. Hotel ini dikenal sebagai hotel keluarga karena lokasinya yang berdekatan dengan Mall Panakkukang, menjadikannya pilihan favorit bagi pengunjung yang membawa keluarga atau rombongan dari luar daerah yang berniat berbelanja atau berjalan-jalan di Mall Panakkukang. Setelah check-in dan mendapatkan kamar, kami membersihkan diri, menunaikan salat, kemudian makan malam. Tanpa terasa, lelap pun menjemput kami.


Pagi yang cerah kembali menyambut kami. Usai subuhan, bertiga sibuk membuka handphone sambil sesekali bercerita, kemudian sekitar pukul 07.20 WITA aku mengambil jatah sarapan di lantai 1 dekat resepsionis. Dua piring nasi goreng dengan lauk telur dadar cincang dan kerupuk kubawa ke kamar untuk kami bertiga. Porsi yang sangat mencukupi, mengingat sepanjang pagi kami tidak keluar kamar dan belum banyak aktivitas fisik. Selesai sarapan, kami bergantian membersihkan diri selagi yang lain membereskan barang bawaan.

Lift membawa kami turun ke basement, dan barang-barang bawaandan koper segera kupindahkan ke mobil bagian belakang. Bapak petugas keamanan dengan sigap memberi instruksi saat aku memutar mundur kendaraan di halaman depan hotel yang tidak begitu luas. Google Maps aku aktifkan di ponselku yang terpasang rapi di holder dasbor—penyelamat sejati saat memasuki wilayah yang belum atau jarang dikunjungi. Pukul 10.24 WITA melanjutkan perjalanan dan tujuan kami kali ini adalah Istana Karantina Tahfizh Nasional di Gowa, sebuah daerah yang baru sekali kukunjungi, sehingga panduan arah menjadi krusial.

Kendaraan melintasi jalan Pengayoman dan AP Pettarani sampai pertigaan ujung belok kiri ke arah jalan Alauddin tempat kampus UIN Alauddin dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Sekitar 500 meter akan menemui perempatan dan kami memasuki kabupaten Gowa dengan nama jalan Sultan Hasanuddin. Satu ruas jalan di perbatasan Makassar- Gowa dengan nama yang berbeda. Setelah melalui jembatan kembar diatas Sungai Jeneberang, kami sedikit memutar dan masuk ke jalan Pelita Taborong yang agak sempit dan ramai.

Menjelang pukul 11.30 WITA, kami sudah tidak jauh dari KTN Darul Istiqamah. Aku memarkir kendaraan di tepi jalan, di bawah rindangnya pohon mangga supaya mobil tidak panas selagi istri dan Nabila bisa tinggal di dalam mobil selagi aku menunaikan salat Jumat di masjid terdekat. Bergantian aku tinggal di dalam mobil saat Istri dan Nabila sholat dhuhur di masjid kemudian kami mencari warung makan, dan bakso mie menjadi pilihan kami. Tepat pukul 13.00 WITA, kami pun memasuki pintu gerbang Karantina Tahfizh Nasional Darul Istiqamah Gowa. Di ruang registrasi, panitia menyambut kami dengan ramah. Setelah proses registrasi selesai, Nabila kami titipkan. Ada haru menyeruak, namun juga keyakinan, bahwa ia akan dibimbing dan dibina sebagaimana keinginannya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Panitia KTN memfasilitasi komunikasi mingguan antara peserta dan orang tua melalui telepon, untuk menyambung rasa dan menjaga semangat peserta, serta memberikan dukungan motivasi dari keluarga. Sekitar tiga pekan kemudian kami diundang via online menyimak tasmi’ hafalan qur’an setoran akhir dari Nabila menyelesaikan hafalan 30 Juz. Menyusu kemudian, undangan untuk menghadiri acara wisuda peserta Karantina Tahfidz nasional Darul Istiqamah Gowa.

Pada tanggal 8 Januari 2025, di Ballroom Hotel Kenari Tower Makassar, suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti. Panggung tertata megah, dihiasi dengan kaligrafi indah dan bunga-bunga segar. Lampu sorot lembut menerangi setiap sudut ruangan, menambah kesan sakral pada momen yang sangat ditunggu ini. Setiap wajah yang hadir memancarkan kebahagiaan, namun juga ketegangan menanti saat-saat puncaknya. Lantunan ayat suci yang dibacakan para hafiz mengalun merdu, menenangkan jiwa, dan membangun aura keagungan.

Di depan tempat barisan wisudawan, nampak Nabila mendapat giliran membacakan ayat Al Qur’an. Suaranya jernih, mengalirkan setiap huruf dengan tajwid yang sempurna, menyentuh relung hati setiap yang mendengar. Aku terharu dan merasakan kebahagiaan. Ini bukan hanya tentang menyelesaikan hafalan, tapi tentang sebuah perjalanan yang membutuhkan tekad, kesungguhan, ketekunan, dan cinta yang tak terhingga kepada Al-Qur’an.

Ketika semua selesai bergiliran membacakan ayat Al Qur’an , gemuruh takbir dan tahmid membahana, menggema di seluruh ruangan. Selesai prosesi wisuda, kami memeluknya erat, air mata kebahagiaan tak terbendung. Istripun tidak sanngup menahan tetesan air mata. Aku sendiri berusaha menahan gejolak keharuan, namun mataku tak bisa berbohong sempat berkaca-kaca, Nabila menjadi bagian diantara jutaan orang lain yang InsyaAllah menjadi penjaga kalam Illahi. Aamiin

Melihat senyum di wajah Nabila, dan kebahagiaan tak terhingga di mata istriku, aku tahu bahwa setiap kilometer perjalanan yang kami tempuh, setiap keringat yang menetes, dan setiap kerinduan yang tertahan, terbayar lunas. Ini bukan hanya sekadar kelulusan, melainkan permulaan dari babak baru dalam hidup Nabila, sebuah jalan terang yang akan membimbingnya, insya Allah, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *