Desember dua puluh dua puluh empat, enam bulan lalu. Itu terakhir kalinya aku menghirup aroma rumah ini, aroma masakan Mak yang selalu saja membangkitkan kenangan. Istriku? Dua tahun. Dua tahun kerinduan tak terobati pada pelukan Mak dan Pak. Sekarang, di tengah momentum liburan sekolah yang singkat, kami akhirnya menjejakkan kaki di tanah kelahiran, seolah waktu mencoba menebus rindu yang menggunung. Namun, takdir berkata lain. Hanya dua hari. Dua hari sebelum kami harus kembali melesat, mengejar undangan wisuda anak di Bogor dan menengok ketiga buah hati kami di sana. Tertinggal satu yang bungsu masih di Sidrap yang sementara mondok dan tidak ada ijin berlibur..sabar nak

Setiap pertemuan dengan Mak dan Pak adalah simfoni yang tak pernah usai. Di usia senja yang merambat, mereka adalah potret abadi cinta yang tak lekang. Saling menjaga, saling melayani, diselingi tawa renyah yang mengisi setiap sudut rumah. Mak, dengan setia, menyeduh kopi hitam kesukaan Pak, aroma robustanya menyeruak memenuhi ruang makan. Beliau menyiapkan hidangan, menyendokkan nasi ke piring Pak, bahkan sesekali menyuapi, seolah waktu tak pernah memisahkan romantisme masa muda mereka. Mereka adalah teladan, suri tauladan yang terukir indah dalam setiap napas kami, anak-anaknya.

Entah berapa kilogram bobot tubuhku bertambah dalam dua hari itu. Setiap jam makan adalah ritual yang tak bisa kutolak. Mak selalu mendampingi, tatapan matanya penuh pinta agar piringku tak pernah kosong. “Tambah lagi, Nak,” katanya, dengan senyum yang meneduhkan. Dua piring, kadang dua bungkus, ditambah secangkir teh hangat yang tak pernah absen. Kenyang? Tentu saja. Tapi bagaimana bisa aku menolak kebahagiaan seorang ibu yang melihat anaknya lahap menyantap hidangan buatannya? Rasanya seperti menolak surga.

Untuk mengimbanginya pada kesempatan pagi-pagi kami jalan-jalan ke Desa Batembat Kecamatan Pace yang memiliki lapangan lokal taraf internasional. Awalnya Bekas Lapangan desa biasa, sudah di rombak total khusus untuk sarana olah raga resmi dengan standart bagus. seperti rumput rapi rutin perawatan. Sarana penunjang tempat parkir luas, disediakan bangku-bangku di sekitar lapangan, dan toilet bersih dan terjaga. Disekeliling lapangan dan di sekeliling lapangan ada track lari yang di aspal hotmix rata sehingga menarik masyarakat yang ingin berolahraga memilih ke lapangan Batembat ini.

Sosok Bapak, meski ingatan kadang berkedip, semangatnya tak pernah padam. Kerutan di wajahnya adalah peta perjalanan yang panjang. Senyumnya merekah setiap kali diajak kakak berkeliling, melihat pemandangan baru, atau sekadar menikmati semilir angin di bandara yang kini begitu dekat dengan rumah. “Biar awet muda,” katanya ringan, matanya menerawang jauh, mengenang perjalanan keliling Indonesia yang pernah beliau lakoni: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, apalagi Jawa. Menikah muda, beruntunglah mereka bisa berkeliling, mengunjungi anak cucu yang kini tersebar di penjuru negeri, saat raga masih perkasa.

Sepulang jalan-jalan di lapangan Batembat, lanjut berkumpul di meja makan untuk sarapan. Suara tawa dan celotehan mengisi udara, memutar kembali kisah-kisah keluarga, cerita-cerita yang menyenangkan, yang seolah tak ada habisnya. Kakak tertua kami kemudian datang, mengajak kami, bersama Mak dan Pak, menelusuri geliat kampung yang kini telah berubah berkeliling di sekitar Bandara Dhoho Kediri yang ujung landasannya sekitar tiga kilometer dari rumah Mak dan Pak. Langit-langit kampung kami kini tak hanya diterangi bintang, tetapi juga lampu-lampun pesawat yang hilir mudik.

Waktu berputar begitu cepat. Terlalu cepat. Saatnya melambaikan tangan, melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dengan kereta sebelum lanjut naik bus ke Bogor dan Sukabumi. Kami memeluk Mak dan Pak erat-erat, mencium tangan dan pipi yang mulai keriput, namun menyimpan kehangatan tak terbatas. Dua hari yang singkat di kampung halaman, menggoreskan rindu yang dalam. Rindu yang kini harus kembali bergelayut, dalam balutan waktu yang tipis 2 hari, menunggu kesempatan lain untuk kembali. Dan kami tahu, setiap kali kaki ini melangkah pergi, sepotong hati kami tertinggal di sana, bersama Mak dan Pak. Sehat selalu Mak Pak, love you

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *