Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa “deep learning” atau pembelajaran mendalam adalah pendekatan belajar untuk meningkatkan kapasitas siswa, bukan kurikulum pendidikan.

” Disitu nanti ada namanya kontekstualisasi. Sehingga, pembelajaran itu kita arahkan dalam pembelajaran yang Mindful, Meaningful dan Joyful Learning” [Abdul Mu’ti].


Apa sebenarnya Meaningful, Mindful dan Joyful Learning?

Deep Learning yang Meaningdful

Deep learning yang meaningful berarti pembelajaran yang bermakna, relevan, dan dapat dihubungkan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran seperti ini membuat siswa merasa bahwa apa yang mereka pelajari itu penting dan bermanfaat.

Ciri-ciri:

  • Relevan dengan kehidupan sehari-hari: Materi pelajaran dikaitkan dengan isu-isu terkini atau masalah yang sering dihadapi siswa.
  • Berorientasi pada masalah: Pembelajaran dimulai dari masalah nyata yang kemudian dicari solusinya melalui proses belajar.
  • Menggunakan proyek berbasis masalah: Siswa diajak untuk menyelesaikan proyek yang kompleks dan membutuhkan berbagai keterampilan.
  • Menghubungkan dengan berbagai disiplin ilmu: Materi pelajaran diintegrasikan dengan berbagai bidang ilmu untuk memberikan pemahaman yang lebih holistik.

Contoh:

  • Mempelajari matematika: Siswa diajak untuk menghitung biaya produksi sebuah produk UMKM di daerah mereka.
  • Mempelajari sejarah: Siswa membuat film pendek tentang tokoh sejarah yang menginspirasi mereka.
  • Mempelajari sains: Siswa merancang eksperimen untuk menguji kualitas air di sungai dekat sekolah mereka.

Deep Learning yang Mindful

Deep learning yang mindful menekankan pada kesadaran penuh saat belajar. Siswa diajak untuk fokus pada proses belajar, memahami emosi mereka, dan mengatur pikiran mereka.

  • Ciri-ciri:
  • Menekankan pada proses: Bukan hanya hasil akhir yang penting, tetapi juga bagaimana siswa mencapai hasil tersebut.
  • Membina kesadaran diri: Siswa diajak untuk mengenali kekuatan dan kelemahan mereka.
  • Menggunakan teknik mindfulness: Seperti meditasi, pernapasan dalam, dan yoga, untuk meningkatkan konsentrasi dan mengurangi stres.
  • Menciptakan suasana belajar yang tenang: Lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif untuk fokus.

Contoh:

  • Mulai pelajaran dengan meditasi singkat.
  • Memberikan waktu refleksi setelah setiap kegiatan belajar.
  • Mengajak siswa untuk berbagi perasaan mereka tentang materi yang sedang dipelajari.

Deep Learning yang Joyful

Deep learning yang joyful menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi. Siswa merasa senang dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.

  • Ciri-ciri:
  • Menggunakan metode pembelajaran yang variatif: Seperti permainan, diskusi kelompok, dan proyek kreatif.
  • Menciptakan suasana yang kolaboratif: Siswa bekerja sama dalam tim untuk menyelesaikan tugas.
  • Memberikan umpan balik yang positif: Guru memberikan apresiasi atas usaha siswa.
  • Membuat pembelajaran menjadi pengalaman yang berkesan: Menggunakan cerita, video, atau kunjungan lapangan.

Contoh:

  • Mengadakan kuis interaktif.
  • Membuat presentasi yang kreatif.
  • Merayakan keberhasilan bersama.

Integrasi Ketiga Elemen

Pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful saling berkaitan dan saling memperkuat. Pembelajaran yang bermakna akan membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar, sedangkan pembelajaran yang mindful akan membantu siswa untuk lebih fokus dan memahami materi dengan lebih baik. Pembelajaran yang joyful akan menciptakan suasana yang positif dan membuat siswa lebih menikmati proses belajar.

Deep learning yang meaningful, mindful, dan joyful adalah pendekatan pembelajaran yang holistik dan berpusat pada siswa. Dengan mengintegrasikan ketiga elemen ini, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *