Menjelajahi keindahan alam dan budaya Sulawesi Selatan tak lengkap tanpa menyempatkan diri untuk beribadah di masjid-masjid ikonik yang menghiasi sepanjang perjalanan. Kali ini, catatan perjalanan saat mengantar anak-anak yang kembali ke Jawa selepas liburan lebaran menyinggahi Masjid Hj. Bau Yulianti dan Masjid Terapung BJ Habibie yang memanjakan mata dengan pesona arsitekturnya. Tidak sekedar tempat persinggahan untuk istirahat tetapi kita merasakan ketenangan, keindahan, dan kedamaian di tengah perjalanan yang panjang. Dari Bandara Hasanuddin Maros lokasi Masjid Hj. Bau Yulianti masih terhitung dekat sekitar 25 km sedangkan Masjid BJ Habibie di tepi pantai Pare-Pare berjarak sekitar 140 km.
Masjid Hj. Bau Yulianti di Pangkep
Masjid Hj. Bau Yulianti yang berlokasi di Bonto Perak, Kec. Pangkajene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) posisinya di sebelah kanan kalau perjalanan dari Makassar ke Enrekang. Tampilannya memadukan dengan indah elemen-elemen arsitektur modern dan tradisional Bugis. Beberapa detail menariknya diantaranya bentuk atap masjid melengkung menyerupai perahu Bugis “Sopang”, melambangkan budaya maritim dan tradisi masyarakat setempat. Bentuk ini selain unik juga memiliki fungsi penahan air hujan yang baik.


Ornamen Kaligrafi menghiasi berbagai sudut masjid, baik di interior maupun eksterior. Ornamen ini tidak hanya indah, tetapi juga mengandung nilai religius yang tinggi. Di bagian depan bangunan menghadap jalan tertulis kaligrafi lafadz Allah yang besar tepat dibawah tulisan Masjid HJ Bau Yulianti. Warna krem, putih mendominasi bangunan masjid, melambangkan kesucian dan keikhlasan. Aksen batu granit hitam bergaris kombinasi dengan lengkungan-lengkungan khas memberikan kesan menenangkan.
Perpaduan warna ini menghasilkan estetika yang indah dan harmonis. Apalagi menara dan kolam air mancur di depan berkilau dengan cahaya lampu yang berganti warna di malam hari. Lahan parkir cukup luas dan fasilitas toilet, tempat wudhu yang bersih dan nyaman. Kalau sedikit jeli, dihalaman tumbuh tanaman zaitun dan bidara.


Masjid Hj. Bau Yulianti tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang penting bagi masyarakat sekitar. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, seperti pengajian, shalat berjamaah, dan ceramah agama. Masjid ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, dengan diadakannya berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, seperti madrasah diniyah atau lomba-lomba keagamaan.
Masjid Terapung BJ Habibie
Masjid Terapung BJ Habibie di Pare-Pare menawarkan perpaduan konsep futuristik dan religius yang menarik. Konsep Terapung dibangun menjorok ke laut, seolah terapung di atas permukaan air merupakan konsep yang menonjol. Konsep ini menghadirkan suasana ibadah yang tenang dan damai, dengan pemandangan laut yang luas dan menyejukkan.


Bentuk masjid ini menyerupai Masjid Hagia Sophia, bangunan bersejarah di Istanbul, Turki. Kubah besar dan pilar-pilar kokoh mendominasi eksterior (luar) masjid, menciptakan kesan megah dan keagungan. Penggunaan material modern seperti beton dan kaca mendominasi struktur masjid. Material kaca pada bagian dinding memungkinkan cahaya natural masuk dan menyinari ruang sholat, menghadirkan suasana yang lapang dan tenang. Apalagi kalau selesai sholat sambil berdzikir memandangi laut dari dalam masjid menghadirkan nuansa kebesaran Sang Pencipta.


Sesuai dengan konsep modern, penggunaan ornamen pada eksterior maupun interior bergaya minimalis. Hiasan kaligrafi hadir dengan gaya modern untuk memperkuat identitas masjid di bagian luar berlafadz “Laillahailallah muhammad darasulullah” dengan khat kaligrafi kufi. Mihrab imam berbentuk lengkungan lancip dan dinding granit berwarna gelap mengimbangi cahaya yang masuk melalui dinding kaca di kanan kirinya.
Meskipun mengusung konsep modern, interior masjid memperhatikan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah. Desain interior bentuk ergonomis dan nyaman, diperkirakan menampung kapasitas 1.000 jamaah. Rancang bangun Masjid terapung BJ Habibie menciptakan harmoni dengan lingkungan sekitar utamanya , sehingga kehadiran masjid tidak menghilangkan keindahan panorama laut Pare-Pare justru menambah keindahan dan pemandangan yang holistik.
