Awal mula perjalanan kami dari Enrekang menuju Maros pada Jum’at, 1 Maret 2024 direncanakan dimulai pada pukul 07.00 WITA. Dengan jarak tempuh 114 km menurut Google Maps dan estimasi waktu normal tempuh 3 jam, kami berniat untuk menunaikan Sholat Jum’at di Masjid Agung Darussalam Soppeng. Namun, pagi itu istri saya masih harus menyelesaikan pengolahan data guru-guru PAI yang penting, meskipun sedang cuti. Oleh karena itu, baru pada pukul 10.05 WITA kami dapat memulai perjalanan dari rumah yang kebetulan berdekatan dengan Kodim 1419 Enrekang.
Meskipun rencana awal sedikit tertunda, kami tetap bersemangat untuk memulai perjalanan ini. Udara mulai terasa hangat oleh mentari yang bersinar menemani langkah kami di awal perjalanan.

Enrekang – Pangkajene
Melewati kantor Bupati Enrekang di Pinang, perjalanan kami sedikit melambat karena harus berhati-hati di jalanan yang berkelok dan beberapa titik sedang dalam perbaikan akibat longsor dan pelebaran jalan. Sesampainya di Kabere, dengan tujuan melalui Soppeng maka kami pilih lurus melalui Maiwa karena belok kanan melalui Mallaga-Pinrang akan menempuh jarak yang lebih jauh. Memilih jalur Maiwa – Rappang, dari Enrekang waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam dan tepat menjelang sholat jum’at, kami tiba di Masjid Raya Islamic Center Sidrap yang megah di Pangkajene. Orang biasa menyebut daerah ini Pangsid kependekan dari Pangkajene Sidrap.
Masjid dua lantai ini bagaikan oase di tengah perjalanan, dengan fasadenya yang indah dan halaman luas yang mampu menampung banyak kendaraan. Selesai sholat jum’at, kami menyempatkan diri mencicipi kuliner masakan padang versi lokal di deretan warung di seberang masjid. Sayur nangka lauk ikan nila goreng menjadi santapan lezat untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.


Pangkajene – Marioriawa Soppeng
Waktu menunjukkan pukul 13.55 WITA saat kami melanjutkan perjalanan menuju Soppeng melalui Kecamatan Amparita. Jalanan menuju Soppeng ternyata sudah mulus beraspal, meskipun di beberapa titik masih terdapat lubang dan gelombang. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan cerita-cerita yang kami dengar beberapa bulan atau tahun sebelumnya, di mana banyak keluhan tentang kondisi jalan yang buruk.
Di tengah perjalanan, kami singgah di Masjid Raya Batu-Batu di Marioriawa, sekitar 300 meter setelah persimpangan arah gerbang permandian air Lejja. Keunikan masjid ini langsung menarik perhatian kami. Masjid dua menara ini memiliki lima pintu lengkungan lancip yang menjulang di bagian depan, mengapit di dua sisi. Ruang di atas menara dilengkapi dengan kubah, dan halaman depannya dihiasi taman bernuansa natural dengan perpaduan rumput dan bonsai yang terawat rapi. Di depan tempat wudu, terdapat menara tunggal setinggi 25 meter yang menjulang kokoh. Setelah selesai beristirahat sejenak untuk mendinginkan mesin mobil, kami melanjutkan perjalanan ke arah Kota Soppeng pada pukul 15.15 WITA.

Marioriawa Soopeng – Mallawa Maros
Selepas Marioriawa, perjalanan kami masih menemui beberapa ruas jalan yang bergelombang dan berlubang akibat aspal yang rusak. Awalnya kami berniat untuk singgah di Kota Soppeng, namun karena tujuan awal masih jauh sehingga keputusan batal singgah di Soppeng dan pengaturan titik tujuan di aplikasi Google Maps kami kunci pada lokasi Kantor Camat Mallawa, kami pun langsung menuju ke sana.
Perjalanan dari Marioriawa ke Mallawa memakan waktu sekitar 2,5 jam, dengan jarak tempuh sekitar 98 km. Kami sempat melalui sempilan wilayah Tanabatue yang masuk wilayah Kabupaten Bone. Hampir satu jam terakhir perjalanan, hujan turun membasahi jalanan. Walaupun tidak begitu lebat, kami tetap ekstra hati-hati karena medan yang dilalui berkelok naik turun, terutama saat mendekati Mallawa yang termasuk daerah yang berdekatan dengan kawasan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sekitar jam 17.50 kami tiba di kantor Camat Mallawa dan mobil singgah sebentar di Masjid Babbul Jannah yang berada tidak jauh dari kantor Camat untuk berbenah diri.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan menelusuri aspal menuju Mamappang. Dusun Mamappang, Barugae, Kecamatan Mallawa berjarak sekitar 6 km dari kantor Camat yang berada di Jalan Poros Maros-Soppeng. Salah satu tujuan utama perjalanan kami kali ini adalah menghadiri pernikahan seorang teman guru yang berasal dari Mamappang. Jalanan aspal masih mulus, sedikit tanjakan dan kelokan dengan pepohonan yang menjulang ke langit di sekelilingjalan. Sepi terasa dan sesekali bertemu mobil atau motor di jalanan yang mulai temaram senja dan semakin meredup gelap. Hujan gerimis di suhu udara yang dingin menghadirkan nuansa perjalanan kami menjadi syahdu.
Kami tiba di masjid Al Manar saat muadzin baru saja mengumandangkan adzan. Kami pun bergegas memarkir mobil tepat di depan masjid dan berlari kecil menghindari terpaan hujan untuk mengambil air wudu. Di dalam masjid, kami bergabung dengan jamaah lain dan menunaikan sholat magrib dengan penuh khusyuk. Setelah selesai aktivitas di masjid kami bertamu ke rumah yang berdekorasi khas hajatan pernikahan.
Acara akad nikah mempelai sebenarnya esok hari, berhubung ada kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan kami bertamu sebelumnya. Pengaturan ruangan tamu undangan dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, menciptakan suasana religi-romantis. Saya mengikuti antrian tamu laki-laki untuk mengambil makan kemudian menikmati hidangan di kursi yang tertata rapi. Selesai makan dan minum kami berbincang singkat dengan tuan rumah dan calon pengantin perempuan, pamit untuk melanjutkan perjalanan malam ke Kota Maros berhubung esok hari melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Gowa.
Mallawa – Camba – Kota Maros
Menjelang Isya’, kami meninggalkan Mallawa menuju Maros. Jalanan basah dan hari sudah gelap, mengharuskan kami ekstra hati-hati. Kendaraan yang melintas pun semakin berkurang. Perhentian perjalanan berikutnya adalah di Camba untuk beristirahat sejenak. Tepat jam 20.10 WITA, kami singgah di Indomart Camba yang terletak di seberang Masjid Cempaniga. Masjid ini terletak tepat di sebelah lapangan.


Istri saya membeli minuman dan keripik di Indomart, sementara saya menyantap bakso yang dijajakan di parkiran untuk menghangatkan badan. Setelah beristirahat sekitar 25 menit, kami melanjutkan perjalanan ke Maros melalui jalur Bantimurung yang lebih menantang.
Jalur dari Camba ke Maros melalui Bantimurung ini merupakan jalur baru pertama kalinya saya lalui, dan sensasinya sangat berbeda dengan jalur sebelumnya. Perjalanan dimulai sekitar jam 8.00 WITA di tengah hujan gerimis dan pekatnya gelap malam di tengah hutan. Awalnya, perjalanan dari Camba ke Maros melalui Bantimurung terbilang lancar dan mobilitas cepat karena jalanan aspal yang mulus walaupun berliku dan hanya terlihat satu atau dua mobil yang berpapasan atau melambung kami. Apalagi info yang kami dapat bulan januari lalu di jalur Hutan Karaengta, Kappang sudah dilakukan pelebaran dengan meruntuhkan tebing tinggi di sisi jalan dan sempat dilakukan penutupan dalam beberapa hari. Rencana Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulsel panjang pelebaran jalan poros Maros – Bone 14 km dan yang 11 km masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Selain pelebaran jalan juga rehabilitasi jalan, pelebaran jembatan dan pemeliharaan rutin sehingga total panjang sasaran 16,7 km
Di jalur baru ini, Google Maps menjadi sahabat yang sangat membantu, selain fokus utama di jalanan. Mengendari jalur baru di malam hari, selain mengamati googlemaps kami juga mencoba mengikuti mobil yang ada di depan dengan tetap menjaga jarak dan kecepatan. Memasuki jalur proyek pelebaran perjalanan mulai tersendat dan sangat lambat. Jalan berliku diantara tebing dan jurang rupanya tengah dalam perbaikan dan pelebaran. Alat-alat berat bekerja dan mobil diatur bergantian melintasi jalanan yang sempit dan berkelok, bahkan membentuk huruf U dan S. Titik kemacetan bertambah karena truk-truk besar, truk peti kemas, dan bus ikut berjejer dalam antrian.


Jarak antar mobil terasa hampir lengket karena padatnya kendaraan di jalur sempit. Sesekali, pandangan teralihkan ke tebing di sisi kiri yang seolah menggantung di atas mobil. Sekitar jam 9.45 WITA, setelah melalui jalan lingkar sekitar Maros Waterpark perjalanan lancar dan alhamdulillah kami pun sampai di Grand Mall Maros yang terletak di seberang Zazil Bakery pada jam 10.15 WITA.

Setelah reservasi untuk menginap, kami pun bisa beristirahat dan tidur dengan nyenyak setelah merasakan sensasi perjalanan malam yang menegangkan dari Cemba ke Maros melalui Bantimurung yang sedang dalam perbaikan.
Menuju KTN Darul Istiqomah Gowa
Hari Sabtu, 2 Maret 2024 pagi kami bersiap untuk agenda perjalanan berikutnya. Putri keempat kami, Nabila, dijadwalkan untuk mengikuti Program Tahfidz Al-Qur’an di Karantina Tahfidz Nasional (KTN) Darul Istiqomah Gowa. Semangat dan antusiasme Nabila memancarkan keceriaan di pagi itu walaupun sehari sebelumnya melalui perjalanan yang sensasional melalui poros Bantimurung yang menegangkan. [baca https://mediabelajar.web.id/2024/03/02/trip-enrekang-maros-jalur-bantimurung/]
Sarapan nasi goreng dengan telur ceplok dan kopi pahit hangat menjadi pelengkap sempurna untuk memulai perjalanan nantinya. Seiring kabut pagi yang mulai menipis, kami bersiap meluncur menuju Gowa, meninggalkan jejak debu di parkiran. Perjalanan kali ini istimewa karena kami memilih rute baru yang belum pernah dilalui sebelumnya. Melewati wilayah timur, kami menjelajahi jalanan yang belum banyak dilalui kendaraan. Dari Maros, kami memulai perjalanan pada pukul 09.30 WITA melalui Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Alternatif Perintis Kemerdekaan, Jalan DR Leimena, Antang Raya, Borong Raya, Inspeksi Kanal II, dan Yompo Daeng Naba.
Pemandangan sepanjang perjalanan memanjakan mata. Sungai tidung yang mengalir tenang menemani langkah kami di sepanjang jalan Borong Raya. Di jalan Inspeksi Kanal II dan jalan Yompo Daeng Naba, perjalanan terasa sedikit lambat karena jalanan yang sempit dan ramai motor. Akhirnya, setelah melewati jalan Andi Tonro dan jembatan kembar yang megah, kami tiba di KTN Darul Istiqomah menjelang pukul 11.15 WITA. Kegembiraan Nabila terlihat jelas saat melihat tempat yang akan menjadi rumahnya selama sebulan ke depan.


Sebelum mengantar Nabila registrasi, kami menyempatkan diri untuk sholat Duhur di masjid yang berada di seberang KTN. Tepat pukul 13.15 WITA, Nabila menyelesaikan registrasinya di KTN Darul Istiqomah dan tinggal di asrama. Doa dan harapan kami mengiringi langkahnya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia.
Perjalanan Kembali ke Enrekang
Setelah mengantar Nabila, kami menyusuri kembali Jalan Pelita Taborong. Setelah melintasi Jembatan Kembar, kami berbelok ke Jalan Wachid Hasyim dan setelah berliku di beberapa ruas jalan kota Makassar tujuan kami mampir di Amaris Hertasning untuk menyelesaikan keperluan di Makassar.
Pagi harinya, sekitar pukul 08.10 WITA, kami melanjutkan perjalanan melalui tol untuk menghemat waktu. Melewati Maros, Pangkep, dan Baru, kami singgah sejenak di Pantai Kupa untuk menikmati keindahan alam. Perjalanan dilanjutkan melalui Parepare dan Pinrang. Sekitar pukul 15.15 WITA, kami akhirnya sampai di Enrekang. Perjalanan kali ini terasa lebih panjang, namun penuh makna dan pengalaman baru.
Selamat menempuh hidup baru Ustadz Suldin Arif – Nur Inayah Adam, semoga menjadi keluarga yang Sakinah-Mawaddah wa Rahmah
