Pagi itu, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan di atas kampus STIBA Arraayah Sukabumi, kini dikenal sebagai Institut Muslim Cendekia. Suara azan Subuh menggema dari masjid, memecah keheningan kawasan pendidikan yang asri dan tenang. Di sini, ilmu dan akhlak bertumbuh subur, seiring dengan pepohonan rindang—termasuk pohon mangga dan kelapa produktif—yang menghiasi lingkungan, seolah menyambut setiap langkah dengan kehangatan. Kampus ini memang dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang fokus pada pembinaan karakter dan keilmuan, menawarkan suasana kondusif untuk studi dengan fasilitas yang tertata rapi.

Usai menunaikan salat Subuh, kami menyempatkan diri berjalan kaki mengelilingi kampus. Anak kedua kami, yang baru saja diwisuda di Bogor, berinisiatif menemui sahabat lamanya semasa SMA yang kini tengah menimba ilmu di Arraayah. Sementara itu, ibunya tinggal di penginapan kampus, sibuk menata pakaian dan barang-barang sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Pool Bus Rosalia Indah di Tajur, Ciawi. Rencananya, Nayla akan pulang berlibur ke rumah neneknya di Nganjuk, Jawa Timur.
Di sisi lain, anak pertama kami masih tinggal di Arraayah untuk menyelesaikan beberapa urusan lanjutan studinya, sementara anak ketiga bersiap kembali ke Cisarua, ke kampus STIU Wadi Mubarak. Sekitar pukul 10 pagi, kami pun mulai berkemas. Perjalanan dimulai dengan menaiki angkutan ke Cibadak, lalu lanjut menggunakan Grab menuju Tajur.
Perjalanan Menuju Bogor dan Momen di Tajur

Sukabumi, tempat Arraayah berdiri, dikenal dengan udaranya yang sejuk dan pemandangan alam yang indah, sering menjadi tujuan wisata favorit. Namun, pagi itu fokus kami adalah perjalanan. Sesampainya di Tajur, Ciawi, menjelang waktu Dzuhur, kami singgah di masjid yang berseberangan dengan pool bus untuk menunaikan salat Jumat. Masjid sederhana namun bersih itu menjadi saksi keheningan doa kami. Seusai salat, kami membeli empat bungkus nasi di warung kecil sebelah masjid—menu khas warteg: orek tempe, telur bulat, dan ikan ekor kuning berbumbu gurih. Sederhana, tapi sarat cita rasa yang menggoda, terlebih disantap bersama dalam suasana hangat kebersamaan.

Pukul 13.45, Nayla bersiap naik bus Rosalia Indah. Setelah pelukan perpisahan yang hangat, ia melangkah menuju kursi 3C. Tak lama, bus pun berangkat, membawa Nayla menelusuri jalur pulang menuju timur Jawa. Anak ketiga kami juga berpamitan, kembali ke Cisarua.
Menjelajahi Kota Bogor
Kami—aku dan istri—melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Bogor. Grab membawa kami ke D’Sapporo Hotel, tak jauh dari ikon kota, Kebun Raya Bogor. Perjalanan satu jam kami habiskan dengan obrolan ringan dan kelegaan setelah hari yang padat. Bogor, dikenal sebagai “Kota Hujan,” seringkali mengalami kepadatan lalu lintas kendaraan, terutama di jam-jam sibuk, namun pesona alam dan sejarahnya tak pernah luntur.

Sore harinya, kami berjalan kaki ke persimpangan Tugu Kujang, salah satu ikon Kota Bogor yang megah. Di sekitar Tugu Kujang, terdapat banyak fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, restoran, dan berbagai layanan lainnya, menjadikan area ini selalu ramai dengan aktivitas warga dan wisatawan. Hiruk pikuk kota ini kontras dengan keheningan kampus di pagi hari, tapi tetap menyimpan pesona tersendiri. Kami sempat mencari tahu jadwal bus menuju Bandara Soekarno-Hatta, sebelum akhirnya kembali ke hotel membawa beberapa bungkus makanan untuk makan malam.

Keesokan harinya, sekitar pukul 06.30 pagi, aku berjalan keluar mencari sarapan. Warteg masih menjadi pilihan terbaik. Nasi hangat, sayur, dan lauk sederhana menjadi pengobat rindu—karena di tanah Sulawesi, cita rasa warteg adalah kemewahan yang langka.
Perjalanan Pulang ke Makassar
Sekitar pukul 08.00, kami menuju Terminal DAMRI. Walau jaraknya dekat, kami memilih Grab karena cuaca mulai panas. Setelah membeli tiket dan tak lama menunggu, kami naik bus menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami tiba di bandara. Namun, layanan check-in mandiri belum dibuka, dan kami menunggu sambil menikmati kopi dan camilan di salah satu outlet.
Setelah berhasil check-in manual, kami melewati pemeriksaan barang dan menunggu di ruang tunggu Gate 2B. Kabar bahwa penerbangan Lion Air mengalami keterlambatan kami terima dengan sabar. Waktu kami isi dengan salat, bergantian menjaga barang bawaan.

Pukul 13.30 akhirnya proses boarding dimulai. Pesawat lepas landas, membawa kami kembali ke tanah kelahiran—Makassar. Kami mendarat pukul 17.30 WITA di Bandara Sultan Hasanuddin. Bandara ini, yang selalu ramai, kini tengah dalam proses pembangunan dan pengembangan untuk meningkatkan kapasitas serta fasilitasnya demi kenyamanan penumpang dan menunjang konektivitas udara di wilayah timur Indonesia. Kami menyusuri bandara hingga area penjemputan, lalu naik Grab menuju Sazil, tempat kami dijemput untuk melanjutkan perjalanan darat ke Enrekang.

Bada Isya, mobil SUV melaju di jalanan malam. Sopir yang sudah terbiasa menembus gelap dan tikungan tajam membawa kami dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam. Aku menatap jalanan yang sunyi, hanya diterangi sorot lampu dan bulan separuh.
Tepat pukul 00.08 dini hari, kami tiba di rumah, Talaga, Kota Enrekang—berada di kaki Gunung Latimojong yang sejuk dan tenang. Kelelahan bercampur haru, aku sempatkan menulis pesan singkat di grup keluarga: “Kami sudah tiba di rumah, alhamdulillah selamat.”
Semoga setiap langkah yang kami tapaki mendapat berkah dan ridho dari Allah SWT. Aamiin.
