Alhamdulillah, acara wisuda selesai menjelang waktu dhuhur, namun cuaca di Puncak Bogor justru mendung dan rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Kami sekarang sudah berempat, aku dan istri serta putri kedua dan adik laki-laki yang sama-sama kuliah di STIU Wadi Mubarak berencana menuju Sukabumi berkumpul dengan anak pertama yang juga menyelesaikan kuliahnya di Institut Muslim Cendekia atau STIBA Arraayah sebutan sebelumnya. Kami mampir terlebih dahulu ke kampus STIU WM menjenguk teman-teman putri kedua yang dari Sulawesi sekalian mengambil pakaian dan barang yang diperlukan. Rencana sebagian buku-buku yang sudah tidak terpakai akan dikirim ke Sulawesi melalui jasa pengiriman kargo di Cisarua.


Respon aplikasi pemesanan grab terus berputar-putar menunjukkan tidak ada mobil grab yang siap menjemput kami di Hotel Seruni. Saat ini adalah musim liburan sekolah dan jalur Ciawi menuju Puncak, Bogor, pada musim liburan atau weekend menjelma menjadi lautan kendaraan. Pemandangan kemacetan parah adalah hal lumrah yang tak terhindarkan bagi siapa pun yang ingin menikmati sejuknya udara pegunungan di sana. Itulah penyebab ketidaksiapan sopir mobil grab mengambil penumpang karena akan membuang waktu dan bahan bakar selama terjebak kemacetan. Kami mencoba mengantisipasi dengan membuat kesepakatan dengan sopir grab yang mengantar tadi pagi, tetapi wajar kalau membatalkan kesepakatan dengan kondisi seperti ini.

Untuk jalur Ciawi-Puncak solusi mengatasi volume kendaraan yang membludak, sistem satu arah (one-way) diterapkan secara ketat. Di pagi hingga siang hari, lalu lintas hanya diperbolehkan naik menuju Puncak. Ini adalah waktu puncak bagi para wisatawan yang baru memulai perjalanan mereka untuk menjelajahi berbagai destinasi menarik. Kemudian, menjelang siang hingga sore hari, giliran kendaraan dari arah Puncak yang mendominasi jalur. Lalu lintas hanya diperbolehkan turun, memberikan kesempatan bagi para pelancong untuk kembali ke kota setelah menikmati waktu liburan mereka. Sistem satu arah ini, meski kerap memakan waktu tunggu yang panjang, adalah upaya untuk mengurai benang kusut kemacetan yang selalu terjadi.

Puncak sendiri memang telah lama menjadi destinasi wisata favorit, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Bukan tanpa alasan, Puncak menawarkan kesejukan udara yang sulit ditemukan di kota besar, serta kelengkapan pilihan wisata yang memanjakan setiap pengunjung. Dari informasi yang beredar di dunia maya, popularitas Puncak sebagai tempat berlibur tak pernah surut. Banyak ulasan positif menyoroti keindahan alamnya, mulai dari kebun teh yang membentang hijau, air terjun yang menyegarkan, hingga berbagai vila dan resor dengan pemandangan menakjubkan. Selain itu, pilihan kuliner dan aktivitas rekreasi seperti paralayang, berkuda, hingga taman hiburan juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran, meskipun tantangan kemacetan dan sistem satu arah harus dihadapi, Puncak tetap menjadi magnet bagi mereka yang mencari pelarian dari hiruk pikuk kehidupan kota.

Alhamdulillah, akhirnya setelah menunggu sekian lama ada mobil grab yang merespon dan menjemput kami meninggalkan hotel seruni. Mobil menuruni kawasan puncak tidak melalui jalan biasanya karena pasti terjebak kemacetan. Sang sopir mengambil jalan alternatif walaupun lebih jauh memutar dan menyelip di jalanan kampung ternyata menjadi solusi efektif dan setelah menapak jalur utama Cisarua dan mendekat masuk ke J&E Cargo mengirim dua kardus buku selama belajar perkuliahan dikirim ke Sulawesi.

Perjalanan pulang kali itu terasa berbeda. Jalan Cisarua menuju Ciawi sudah terkenal dengan kemacetannya yang parah. Satu jam lebih waktu terbuang hanya untuk bisa keluar ke jalan utama yang mengarah ke Cilandak. Mengingat jam pulang kerja sudah di depan mata dan kemacetan pasti akan kembali menjadi momok, kami pun memutuskan untuk memangkas waktu dengan memilih jalur tol.

Gerimis tipis menemani sepanjang perjalanan, namun laju mobil tetap cukup kencang, seolah mengejar waktu yang terus berlari. Selepas Cilandak, jalanan mulai berkelok-kelok, menandakan kami semakin mendekati tujuan. Tepat setelah magrib, sampailah kami di Institut Muslim Cendekia, yang dulunya dikenal sebagai STIBA Arraayah. Sesampainya di sana, kami segera melakukan registrasi atau check-in di bagian customer service. Kami mendapatkan dua kamar di lantai dua yang akan menjadi tempat istirahat kami selama dua malam ke depan.

Momen berkumpul sekeluarga ini sungguh berharga, meskipun belum lengkap karena si bungsu masih mondok di Sulawesi dan belum mendapatkan izin untuk ilut serta. Suasana hangat langsung tercipta. Diskusi mengalir bebas, mulai dari berbagi pengetahuan, pengalaman, hingga merencanakan pendidikan di masa depan.

Si sulung tengah berencana untuk melanjutkan studi dan sedang dalam proses pendaftaran. Adiknya yang baru saja wisuda akan segera menjalani masa pengabdian mengajar di Mahabbah Wadi Mubarak, sebuah institusi yang fokus pada tahfidz dan sains untuk jenjang SMP-SMA. Adik nomor tiga, InsyaAllah, tahun depan sudah akan menyelesaikan kuliahnya. Dan si bungsu, sebentar lagi juga akan menyusul masuk ke jenjang perkuliahan sebagai mahasiswa. Kebersamaan ini menjadi pengingat akan pentingnya keluarga dan dukungan dalam setiap langkah perjalanan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *