Deru lembut mesin Toyota Agya membelah pagi Bogor yang masih dingin, membawa kami menjauh dari Masjid Alumni IPB, menembus kabut tipis menuju Cisarua. Dari jendela mobil, hamparan hijau terbentang sepanjang jalan tol, memanjakan mata yang lelah setelah dua hari perjalanan. Sebelum melangkah lebih jauh, sebuah misi penting menanti: menitipkan setumpuk pakaian kotor di Jourdan Laundry, berharap bisa kembali terlipat rapi menjelang siang. Tak jauh dari laundri adalah tujuan utama kami: Grand Hotel Ussu, tempat menginap beberapa walisantri mahasiswi Islamic Center Wadi Mubarak yang akan diwisuda esok hari.

Jalan Ciawi-Puncak yang ramai membentang tepat di depan hotel, mengundang kami untuk melemaskan kaki. Aroma sedap dari warung-warung pinggir jalan tak dapat kami abaikan. Sebuah warung sederhana menarik perhatian, dan tak lama kemudian, semangkuk bubur khas Cisarua dengan topping kedelai goreng yang renyah mengepul di hadapan kami. Rasanya sederhana, namun mampu menghangatkan dan menenangkan. Kami berlama-lama di warung, duduk bercerita sambil membuang waktu, namun kebosanan akhirnya menghinggapi. Akhirnya, kami putuskan mencoba check-in meskipun belum waktunya.

Setibanya di sana, kemegahan Ussu langsung menyapa. Tepat di tepi Jalan Raya Puncak Km. 79 Kopo Cisarua, berdiri bangunan kokoh elegan dengan halaman luas yang mengundang kami masuk. Petugas keamanan yang baik hati membantu kami menyeberang jalan yang tak henti dilalui lalu lalang mobil dari dua arah. Namun, Front Office rupanya bersembunyi anggun, 300 meter ke belakang dari pintu masuk. Anggap saja sebagai pemanasan untuk meregangkan otot setelah duduk lama, kami pun berjalan kaki. Bagi kami yang tak membawa kendaraan pribadi, layanan penjemputan barang adalah anugerah. Tak apalah, pemandangan alam dan penataan bangunan yang asri mampu mengobati kelelahan jasmani.

Sesampainya di lobi resepsionis, dengan santun kami mengonfirmasi diri. Tercatat sebagai pemesan kamar, sayangnya kedatangan kami terlalu awal dari waktu check-in di jam dua siang. Kami tidak kecewa, melainkan sadar diri bahwa memang begitulah SOP-nya. Untungnya, kami bisa menitipkan koper di resepsionis, lalu memutuskan untuk membuang rasa jenuh dengan menjelajahi sekitar dan beristirahat di lounge dekat pintu masuk.

Area lounge yang sepi dan nyaman menjadi pelampiasan kelelahan. Mengambil posisi terbaik, duduk di kursi empuk menghadap meja kaca bundar, kami memandang jauh eloknya Cisarua. Sembari menunggu waktu check-in yang terasa abadi, kami memesan sepiring pisang goreng hangat dan minuman dingin, ditemani ritual wajib mengisi daya ponsel yang sudah sekarat. Waktu merangkak terasa lambat. Aku kembali keluar, sementara istri menunggu di lounge. Kali ini menuju warung Padang sederhana yang tak jauh dari hotel. Dua bungkus porsi nasi ikan nila, tahu goreng, dengan sayur ubi disiram kuah, dan sambal hijau menjadi pilihan. Porsi jumbo yang mengejutkan dengan harga hanya Rp14.000, melebihi porsi perut kami, terhitung murah dibandingkan harga di kampung halaman kami di Sulawesi Selatan yang bisa mencapai dua kali lipatnya. Tepat saat makanan habis kami santap, azan Duhur pun berkumandang.

Bosankah menunggu? Tentu saja. Pukul 13.00 WIB, rasa penasaran dan lelah tak tertahankan lagi. Kami nekat menuju Front Office, dan beruntungnya, kali ini keberuntungan berpihak pada kami. Petugas mengizinkan kami untuk check-in lebih awal. Grand Hotel Ussu, dengan kategori bintang empatnya, ternyata ibarat labirin klaster bangunan yang memukau. Ada klaster Bougenville, Rose, Eforbia, Garbella, Catalya, Lily, Crysant, dan Anggrek. Kami mendapat kamar di Klaster Garbella yang tidak jauh dari lounge, dan bergegas menarik koper menuju kamar disertai hujan yang mulai rintik-rintik.

Kami kembali berjalan kaki untuk mencapainya, menaiki beberapa anak tangga, meniti lanskap yang berundak-undak. Namun, setiap langkah terbayar lunas. Dari ketinggian, pemandangan lembah dan perbukitan yang hijau membentang luas, membuang jauh rasa penat. Ba’da Magrib, kami pun berjumpa dengan putri kami yang akan diwisuda, sedang berkumpul bersama teman-teman seangkatannya selepas gladi wisuda dan bersiap masuk kamar yang disediakan khusus bagi mereka.

Akhirnya, kami di dalam kamar yang nyaman berkesempatan merebahkan diri, membiarkan kelelahan menyelimuti, siap menyambut istirahat yang telah lama dinantikan setelah seharian bereksplorasi di pelukan Puncak Garbella.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *